Selamat pagiii!!! Eh, siang dingss!! Eh malam kali yaak!! hehehe, dimanapun pembaca ini ada selamat hari ini. wkwkwkwk. Mimin is back!! Mimin bakal share nih persoalan pendidikan dinegara kita. Negara kita ini kan negara yang berkepulauan, Pasti ada dong yang namanya wilayah tertinggal. Nah, banyak loh permasalahan dari wilayah tertinggal ini. terutama dalam bahasanya. Banya guru-guru yang harus ditugaskan ke daerah tertinggal itu untuk mengajar. Namun, tentu tak semudah yang kita pikirkan, banyak sekali kendalanya. Antaranya adalah bahasa. Dikarenakan akses yang sangat sulit, anak-anak yang ada didaerah tertinggal hanya akan mengerti bahasa daerah mereka.
Eh, malah keterusan cerita. Hahahaha. Okelah kalau begitu, sebaiknya kalian baca yang dibawah ini ya. Hihihi~
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh rakyat Indonesia. Semua bahasa daerah yang ada di Indonesia di hubungkan dengan bahasa Indonesia sebagai penghubung antara daerah satu dan daerah lainnya. Namun, bagaimana dengan wilayah 3T (terdepan, tertinggal dan terpencil) yang ada di Indonesia? Daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan ini menggunakan bahasa-bahasa daerah mereka. Terkadang tanpa mengetahui sedikitpun bahasa Indonesia itu seperti apa.
Eh, malah keterusan cerita. Hahahaha. Okelah kalau begitu, sebaiknya kalian baca yang dibawah ini ya. Hihihi~
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh rakyat Indonesia. Semua bahasa daerah yang ada di Indonesia di hubungkan dengan bahasa Indonesia sebagai penghubung antara daerah satu dan daerah lainnya. Namun, bagaimana dengan wilayah 3T (terdepan, tertinggal dan terpencil) yang ada di Indonesia? Daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan ini menggunakan bahasa-bahasa daerah mereka. Terkadang tanpa mengetahui sedikitpun bahasa Indonesia itu seperti apa.

1. Faktor-faktor penyebab masyarakat 3T tidak
mahir berbahasa Indonesia.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kurangnya kemampuan bahasa
Indonesia di wilayah 3T, salah satunya adalah letak geografis yang sulit
dijangkau transportasi dan komunikasi. Wilayah yang terkecil dan tertinggal
terkadang sulit dijangkau karena susahnya akses transportasi dan komunikasi ke
daerah tersebut. Sehingga pemahaman mengenai bahasa akan sulit dicapai. Kemudian
karena pemerintah yang tidak memperhatikan daerah-daerah terpencil tersebut. Hal
ini sangat disayangkan karena tanpa upaya pemerintah langsung, maka semua upaya
yang dilakukan oleh masyarakatpun menjadi sulit.
2. Dampak ketidakmahiran bahasa Indonesia
Karena ketidakmahiran dalam berbahasa Indonesia, maka banyak dampak yang
dapat ditimbulkan. Yang pertama adalah tidak mengertinya bahasa Indonesia di
bidang informasi dan komunikasi. Hal ini dapat menimbulkan jauhnya masyarakat
wilayah tersebut terhadap isu-isu nasional seperti pemilihan kepala daerah dan
kebijakan pemerintah yang ada. Bahkan ada suatu wilayah yang tidak tahu siapa
presiden dan wakil presiden Indonesia itu sendiri. Itu dikarenakan publikasi
yang tidak dimengerti oleh mereka. Dampak selanjutnya yaitu pada daerah
perbatasan, banyak yang lebih mengerti bahasa negara tetangga dari pada bahasa
Indonesia itu sendiri. Ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena hakikat
bahasa indonesia adalah sebagai bahasa nasional pemersatu bangsa Indonesia.
3. Solusi yang perlu dilakukan di bidang
pendidikan
Dalam peristiwa ini, diperlukan adanya solusi untuk menumbuhkan
pemahaman mengenai bahasa indonesia di wilayah 3T tersebut. Salah satunya
adalah dengan mengadakan program prioritas pendidikan dasar bagi masyarakat
terpencil di Indonesia. Yaitu dengan cara mengirimkan guru-guru berkompeten
yang sebelumnya melakukan pelatihan dan orientasi terhadap daerah yang dituju. Banyak
hal-hal yang sebelumnya harus dikuasai oleh guru-guru yang akan dikirim, antara
lain mengenai bahasa, budaya dan letak geografis daerah yang dituju.
Daftar Pustaka:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar