Sabtu, 29 April 2017

Sintaksis

Apa itu sintaksis? Sintaksis adalah cabang ilmu yang memoelajari tentang struktur wacana, kalimat, klausa, dan frase.
Lalu, apa itu frase? Satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Serta, frase juga adalah sebuah kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan).
Frase dibagi menjadi 2 jenis, yaitu frase endosentrik dan frase eksosentrik.
1. Frase endosentrik dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu:
a. Atributif, yaitu frase yang unsur-unsurnya tidak setara dan tidak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau. Misalnya buku baru, sedang belajar, belum mengajar.
b. Apositif, yaitu frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tidak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Misalnya Khairul, keponakan pak Bahar sedang bernyanyi.
c. Koordinatif, yaitu frase yang berinduk dan bagian-bagiannya dihubungkan dengan penghubung ganda. Akan tetapi, ada juga yang tidak menggunakan kata hubung. Contoh yang menggunakan kata penghubung yaitu si Ali dan si Bella, orang tua atau wali, dan baik si A maupun si B. Contoh yang tidak menggunakan penghubung antara lain si A, si B, si C telah datang. Meja, kursi, bangku....... . Ayam, itik, kambing.......
2. Frase eksosentrik yaitu frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Contohnya yaitu di dipasar, di sekolah, di desa, dll.

Frase yang ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata dibagi menjadi 5, yaitu:
1. Frase Verbal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan kata kerja sebagai intinya dan tidak merupakan klausa yaitu berpotensinya menjadi sebuah kalimat. Contoh: Adik saya sudah belajar, Ayah saya sedang belajar.
2. Frase nominal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contohnya Aiman mendapatkan dua buah kelereng dan Sufian menjual 4 buah lemarinya.
3. Frase adjektiva yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contohnya yaitu Tino sangat sedih dan Gunung itu sangat tinggi.
4. Frase Pronomina yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau labih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Contonya Saya sendiri akan menjahit baju ini dan Kami sekalian akan menutup acara ini.
5. Frase Numeralia yaitu dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Contohnya yaitu Sebelas ekor itik telah hilang dan Tiga buah gedung sekolah tengah terbakar.

Daftar Pustaka:
Materi mata kuliah Bahasa dan sastra Indonesia
Pengertian-kata.blogspot.co.id

Morfem bebas dan Morfem terikat yang ada pada sebuah paragraf

Saat aku menoleh kekanan, aku dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang tengah duduk berjarak setengah meter dariku. Entah aku melamun terlalu dalam atau aku yang terlalu kelelahan, aku tak menyadari kehadiran gadis tersebut. Padahal biasanya aku bahkan mudah tahu kalau ada seseorang yang mengendap-endap di belakangku.
Gadis itu menoleh ke arahku, kemudian bibir pucatnya tersenyum menampilkan kawat giginya yang berwarna merah muda. Matanya yang dihias kacamata bulat terlihat menyipit. Rambutnya yang dikepang dua menyisakan sedikit anak rambut di depan telinga yang bergoyang-goyang diterpa angin. Gadis itu mengulurkan tangan kanannya.

Morfem Bebas yang terdapat pada penggalan cerpen diatas adalah sebanyak 54 kata (lihat pada kata yang berwarna merah).
Morfem Terikat yang terdapat pada penggalan cerpen diatas adalah sebanyak  
32 kata (terlihat pada kata yang berwarna biru).


Daftar pustaka: 
Sumber cerpen: http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/bulan-dan-venus.html

Morfologi

Apa itu morfologi? Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan dalam kata pada arti kata.
Dalam morfologi terdapat fonem. Yaitu pembentukan kata baru yang memiliki sebuah arti baru dan hanya dengan menambahkan imbuhan pada kata tersebut. Berikut ini adalah bentuk-bentuk morfem, antara lain:
1. Morfem bebas, adalah morfem yang bersifat bebas dan dapat berdiri tanpa bantuan morfem lain. Contohnya rumah, tahan, amanah, dll.
2. Morfem terikat, adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya dapat berdiri jika dibantu dengan morfem lain. Morfem terikat sendiri dapat diartikan sebagai imbuhan. Contohnya: ber, mem, men, per, en, i, kan, dll.
Pada Morfologi dibagi menjadi 3 proses, yaitu:
1. Pembubuhan Afiks (afiksasi) yaitu membubuhkan imbuhan pada suatu kata. Proses ini dibagi menjadi 5 bentuk.
a. Prefiks (Awalan) antara lain ber, me, pe, per, di, ter, ke, se. Contoh kata: Menjahit, Tercantik, dan Bermimpi.
b. Surfiks (Akhiran) antara lain kan, an, i. Contoh kata: Hindari, Kenalkan, dan Tiduran.
c. Infiks (Sisipan) antara lain el, er, dan em. Contoh kata yaitu Leluhur.
d. Konfiks (Awal dan akhir) antara lain ber-kan, per-kan, per-in, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, ter-kan, ter-i, dan ke-an. Contoh katanya antara lain : Mempercayai, Diberikan, Keindahan.
e. Simulfiks antara lain memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i. Contoh katanya antara lain: Mempertahankan, Dipertanyakan.
2. Proses pengulangan (Reduplikasi) yaitu pembentukan kata ulang yang memiliki makna berbeda dari kata dasar. Contohnya bertele-tele.
3. Proses pemajemukan yaitu menggabungkan dua kata berbeda hingga menciptakan kata baru. Contohnya gegap gempita, tenis meja, kamar kecil, dll.


Daftar pustaka:



Pengucapan Huruf dalam Fonologi

No
Huruf
Penjelasan
1
Vokal
Aa: Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Uu: Kedua bibir kebawah, rahang lebih keatas, Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Oo: Bibir dan rahang bawah lebih kebawah, kedua bibir membundar, Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Ee: Bibir rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan kebawah, rahang kebawah.
Ii: Lidah lebih ke atas, Bibir rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan kebawah.
2
Konsonan
B: Bunyi bilabial, hambat, bersuara.
P: Bunyi bilabial, hambat, tak bersuara.
M: Bunyi bilabial, nasal, bersuara.
W: Bunyi bilabial, semi vokal, bersuara.
V: Bunyi labiodental, geseran, bersuara.
F: Bunyi labiodental, geseran, tak bersuara,
D: Bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara.
T: Bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara.
N: Bunyi apikoalveolar, nasal, bersuara.
L: Bunyi apikoalveolar, sampingan, bersuara.
R: Bunyi apikoalveolar, getar, bersuara.
Z: Bunyi laminoalveolar, getar, bersuara.
N: Bunyi laminopalatal, nasal, bersuara.
J: Bunyi laminopalatal, paduan, bersuara.
C: Bunyi laminopalatal, paduan, tak bersuara.
S: Bunyi laminopalatal, geseran, tak bersuara.
G: Bunyi dorsovelar, hambat, bersuara.
K: Bunyi dorsovelar, hambat, tak bersuara.
X: Bunyi dorsovelar, geseran, bersuara.
H: Bunyi laringal, geseran, bersuara.
3
Diftong
Ai: Bibir terbuka lebar, Lidah semakin tinggi sehingga mulut lebih tertutup.
Oi: Bibir membundar, Lidah semakin tinggi, bibir tertutup dan bibir rata ke ujung bibir
Au: Bibir terbuka lebar, Lidah semakin tinggi sehingga mulut lebih tertutup, rahang lebih kebawah.
4
Kluster
Kh: Cenderung dalam penyebutan huruf H, terjadinya pengeluaran nafas yang lebih banyak karena tidak adanya hambatan, rahang bawah lebih turun.
Sy: Rahang bawah naik, ujung lidah menyentuh gigi bawah, pada akhirnya bibir terbuka.
Ny: Lidah tengah menyentuh langit-langit atas mulut.

Selasa, 18 April 2017

Fonologi Bahasa Indonesia


Fonologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang seluk beluk kata, adanya udara yang masuk dan keluar dalam rongga pernapasan dan mempelajari bunyi bahasa yang keluar dari alat ucap. Selain itu fonologi juga merupakan ilmu pembendaharaan bahasa dan distribusinya.
Fonologi dibagi menjadi dua cabang, yaitu:
1. Fonetik: Ilmu biologi yang mempelajari sebuah bunyi. Pada fonetik dibagi menjadi tiga bentuk yaitu:
-Artikulatoris: Yaitu bunyi yang diproduksi dari alat ucap manusia (organis/fisiologis)
-Akustik: bunyi yang ada dalam bentuk rambatan di udara, gelombang dan frekwensi.
-Auditoris: yaitu bagaimana bunyi didengar oleh rongga pendengaran manusia.
2. Fonemik: Sistem fonem dimana berperan sebagai pembeda arti.

Fonologi atau bunyi yang diciptakan oleh alat ucap manusia dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu:
1. Konsonan yaitu bunyi bahasa yang dibentuk akibat adanya hambatan pada alat ucap manusia. berikut ini adalah contoh kinerja alat ucap saat penyebutan huruf konsonan.
- Pengucapan B, P, M : Mempertemukan bibir atas dan bibir bawah.
- Pengucapan H : Pita suara terbuka lebar.
- Pengucapan K, G, Ng, Kh, Q : Lidah belakang dan langit-langit lembut bertemu.
- Pengucapan F, V, W : Mempertemukan gigi atas dan bibir bawah.
- Pengucapan F, D, N : Ujung lidah bertemu dengan area lengkungan gigi.
- Pengucapan S, Z, Sy : Udara dari paru-paru mendapatkan halangan dari getaran lidah.
- Pengucapan R tidak jelas : Anak tekak sebagai artikulator, lidah belakang sebagai titik.
- Pengucapan R jelas : Memperdekatkan lidah kelangit-langit lembut atau lengkungan gigi dalam sistem getar.
2. Vokal, yaitu bunyi bahasa yang dibentuk akibat tidak adanya hambatan pada alat ucap manusia. Pengucapan huruf vokal dibagi menjadi dua bentuk, yaitu vokal semi tertutup dan vokal tertutup. vokal semi tertutup yaitu pada rongga lidah diangkat dalam ketinggian 2/3 diatas vokal terbuka ( E, O, I, U ). Vokal tertutup yaitu pada rongga lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit ( I, U ). Berikut ini adalah contoh kinerja alat ucap saat penyebutan huruf vokal.
- Pengucapan A : Bibir membundar, lidah agak kebelakang dan sedikit menurun.
- Pengucapan U : Bibir membundar dan menurun, lidah cenderung kebelakang dan sedikit menurun, dan rahang lebih keatas.
- Pengucapan O : Bibir membundar, menurun dan melebar, lidah kebelakang dan sedikit menurun, rahang bawah lebih kebawah.
- Pengucapan I : Bibir relatif rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan cenderung ke atas.
- Pengucapan E : Bibir relatif rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah kedepan, lidah dan rahang cenderung kebawah.
3. Semi Vokal : Yaitu dibentuk tanpa menghambat arus udara sehingga serupa dengan vokal dan dibentuk dengan pita suara. Semi vokal ini dapat ditemukan pada penyebutan huruf W dan Y.

Proses pembentukan bunyi
- Arus Udara
Arus udara menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa yang merupakan hasil kerja alat atau organ tubuh yang dikendalikan oleh otot tertentu atas perintah saraf otak. Arus udara dalam proses pembentukan bunyi dibagi menjadi dua. yaitu:
1. Arus udara yang masuk ke paru-paru (Ingresif)











2. Arus udara yang keluar dari paru-paru (Agresif)











- Pita Suara
Pita suara meupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk paru-paru. Pita suara terletak pada kerongkongan dalam posisi mendapar dari muka kebelakang.

Pita suara dengan glotis tertutup
pada permulaan akan
membuka.









Pita suara dengan
glotis membuka
sedikit pada ujung
interior.







Glotis terbuka hampir
sepanjang pita
suara








Pita suara terbuka
seluruhnya.








-  Alat-alat ucap
Ketika berbicara, organ-organ tubuh yang disebut sebagai alat ucap itu bekerja seperti seperti pada proses ketika melakukan fungsi utamanya masing-masing. Jadi tidak ada perbedaan operasional yang berarti. Hanya soal pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat pembentukan bunyi.
Organ-organ tubuh yang digunakan sebagai alat ucap dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu (a) komponen supraglotal, (b) komponen laring dan (c) komponen subglotal.


(a) Komponen Supraglotal
Komponen ini terdiri dari 3 rongga yang berfungsi sebagai lubang resonansi dalam pembentukan bunyi, yaitu (1) rongga kerongkongan (faring), (2) rongga hidung dan (3) rongga hidung.
Rongga kerongkongan berfungsi sebagai tabung udara yang akan turut bergetar apabila pita suara menimbulkan getaran pada arus udara yang lewat dari paru-paru.
Rongga hidung mempunyai bentuk dan dimensi yang relatif tetap tetapi dalam kaitannya dalam pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonansi.
Rongga mulut merupakan rongga yang paling penting diantara ketiga rongga yang ada pada supraglotal. Bagian-bagian alat ucap yang terdapat dalam rongga mulut yang bisa digerakan disebut artikulator, dan bagian bagian alat ucap yang menjadi sasaran sentuh disebut dengan titik artikulasi. Berikut ini berbagai alat-alat ucap bagian atas rongga mulut manusia.

Penjelasan:
Bibir atas (labium)
Gigi atas (dentum)
Pangkal gigi atas (alveolum)
Langit-langit keras (palatum)
Langit-langit lunak (velum)
Anak tekak (uvula)

Berikut ini berbagai alat-alat ucap bagian bawah rongga mulut:

Penjelasan:
Bibir bawah (labiu)
Gigi bawah (dentum)
Ujung lidah (apeks)
Tengah lidah (lamina)
Belakang lidah (dorsum)
Akar lidah (dorsum)

(b) Komponen Laring
Laring merupakan kotak yang berbentuk tulang rawan berbentuk lingkaran. Didalamnya terdapat pita suara. Laring dengan kerja pita suara inilah yang berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung.

(c)Komponen Subglotal
Komponen ini terdiri atas paru-paru kiri dan kanan, bronkial, dan saluran pernafasan (trakea). Fungsi utama komponen ini adalah untuk pernapasan , yaitu mengalirkan udara dari dan ke paru-paru.


Daftar Pustaka:
Masnur Muslich. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Malang: PT. Bumi Askara