Jumat, 10 Maret 2017

Bahasa Baku dan Tidak Baku

Hai guys! Apa kabar nih? Baik aja kan? Mimin juga baik loh (enggak ada yang nanya min!) -___-
Mimin cerita dikit boleh lah ya.
Dulu mimin pulang kampung, terus ketemu sama salah satu keluarga mimin yang masih kental bahasa daerahnya. Terus mimin bilang gini ke dia, "Tante, pinjam korsi dong atu. Mau pake buat ganti lampu." Terus tantenya malah balik nanya, "Aga yero korsi nak? Nde wissengi.(apa itu korsi nak? Ndak tau aku.). Nah, jadi mimin kan agak dikit bingung. "Eh, anu tante. Kursi!" Pas mimin bilang gitu baru deh tantenya ngerti. Jadi, kesimpulannya gituu ya teman-teman. Hihihi~
Bagi kalian yang pernah ngalamin pengalaman kayak mimin, baiknya baca aja deh ya yang dibawah ini. Biar enggak ada salah komunikasi lagi. Karena pengalaman mimin ini ada sangkutannya sama kita anak jaman sekarang yang tidak begitu mengenal bahasa baku. Cekidooot!!!

Bahasa baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya yang merupakan bahasa resmi dan sebagai kerangka tujuan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam Baku mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a.    Kemantapan Dinamis
     Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Kalau kata rasa dibubuhi awalan pe-, akan terbentuk kata perasa. Kata raba dibubuhi pe- akan terbentuk kata peraba. Oleh karena itu, menurut kemantapan bahasa, kata rajin dibubuhi pe- akan menjadi perajin, bukan pengrajin. Kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata pengrajin tidak dapat kita terima. Bentuk-bentuk lepas tangan, lepas pantai, dan lepas landas merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku.
Dinamis artinya tidak statis,, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati. Kata langgangan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlanggangan dan toko tempat berlanggangan. Dalam hal ini, tokonya disebut langgangan dan orang yang berlanggangan itu disebut pelanggan.
b.      Cendekia
       Ragam baku bersifat cendekia Karen ragam baku dipakai pada tempat tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Hal ini dimungkinkan oleh pembinaan dan pengembangan bahasa yang lebih banyak melalui jalur pendidikan formal (sekolah).
Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis. Selanjutnya, ragam baku dapat memberikan gambaran yang jelas dalam otak pendengar atau pembaca.
c.       Seragam
      Ragam baku bersifat seragam . pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman. Pelayan kapal terbang dianjurkan untuk memakai istilah pramugara dan pramugari andaikata ada orang yang mengusulkan bahwa pelayan kapal terbang disebut steward atau stewardes dan penyerapan itu seragam, kata itu menjadi ragam baku. Akan tetapi, kata steward dan stewardes sampai saat ini tidak disepakati untuk dipakai. Yang timbul dalam masyarakat ialah pramugara atau pramugari.

     Bahasa tidak baku adalah ragam yang tidak lagi dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku. Ragam tidak baku memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. Walaupun berbeda dengan bahasa baku, tetapi tetap memiliki makna yang sama.
b. Dapat dipengaruhi oleh perkembangan zaman
c. Dapat dipengaruhi oleh bahasa asing
d. Dapat digunakan pada kondisi santai/tidak resmi

     Contoh kata dan kalimat ragam baku dan tidak baku:
1.   Abjat-Abjad
      Eros sedang mengajarkan pengenalan abjat pada murid sekolah dasar (kalimat tidak baku). Menjadi: Eros sedang mengajarkan pengenalan abjad pada murid sekolah dasar (kalimat baku).
2.   Antri-Antre
      Bank itu dipenuhi dengan orang-orang yang sedang mengantri (kalimat tidak baku). Menjadi: Bank itu dipenuhi dengan orang-orang yang sedang mengantre (kalimat baku)
3.   Bis-Bus
      Bis itu terbalik di ruas jalan Gatot Subroto sehingga membuat kemacetan yang cukup parah (kalimat
tidak baku. Menjadi: Bus itu terbalik di ruas jalan Gatot Subroto sehingga membuat kemacetan yang cukup parah (kalimat baku)
4.   Cabe-Cabai
      Hingga tahun ini, harga cabe dipasaran tak kunjung turun (kalimat tidak baku). Menjadi: Hingga tahun ini, harga cabai dipasaran tak kunjung turun (kalimat baku).
5.   Detil-Detail
      Pak Yono terkenal dengan kerajinan anyamannya yang sangat detil (kalimat tidak baku). Menjadi: Pak Yono terkenal dengan kerajinan anyamannya yang sangat detail (kalimat baku).
6.   Extra-Ekstra
      Nanda memasak mie dengan rasa extra pedas (kalimat tidak baku). Menjadi: Nanda memasak mie dengan rasa ekstra pedas (kalimat baku).
7.   Hapal-Hafal
      Nurdianti mendapatkan tugas menghapal perkalian dari guru matematikanya (kalimat tidak baku). Menjadi: Nurdianti mendapatkan tugas menghafal perkalian dari guru matematikanya (kalimat baku).
8.   Isteri-Istri
      Asyroh sudah menjadi isteri pemilik gedung itu semenjak 15 tahun yang lalu (kalimat tidak baku). Menjadi: Asyroh sudah menjadi istri pemilik gedung itu semenjak 15 tahun yang lalu (kalimat baku).
 9.   Konggres-Kongres
       Konggres Bahasa Indonesia diadakan setiap 5 tahun sekali (kali,at tidak baku).
Menjadi: Kongres Bahasa Indonesia diadakan setiap 5 tahun sekali (kalimat baku).
10.  Lobang-Lubang
       Desika menemukan lobang tempat bersarangnya tikus-tikus tanah (kalimat tidak baku). Menjadi: Desika menemukan lubang tempat bersarangnya tikus-tikus tanah (kalimat baku).
11.   Napas-Nafas
        Napas Daffa mulai sesak ketika melihat kecoa terbang kearahnya (kalimat tidak baku). Menjadi: Nafas Daffa mulai sesak ketika melihat kecoa terbang kearahnya (kalimat baku).
12.   Pasport-Paspor
        Hari ini adalah hari terakhir perpanjangan pasport milik Nirwana (kalimat tidak baku). Menjadi: Hari ini adalah hari terakhir perpanjangan paspor milik Nirwana (kalimat baku).
13.   Waqaf-Wakaf
        Emi mewaqafkan sejumlah tanahnya untuk pembangunan panti asuhan (kalimat tidak baku). Menjadi: Emi mewakafkan sejumlah tanahnya untuk pembangunan panti asuhan (kalimat baku).
14.   Tehnik-Teknik
        Mempercantik alis mata kini dapat dilakukan dengan tehnik sulam yang dikenal dengan sulam alis (kalimat tidak baku). Menjadi: Mempercantik alis mata kini dapat dilakukan dengan teknik sulam yang dikenal dengan sulam alis (kalimat baku).
15.   Jaman-Zaman
        Pada jaman sekarang, globalisasi memiliki dampak yang jelas bagi kehidupan di perkotaan (kalimat tidak baku). Menjadi: Pada zaman sekarang, globalisasi memiliki dampak yang jelas bagi kehidupan di perkotaan (kalimat baku).
16.   Propinsi-Provensi
        Universitas Borneo Tarakan adalah salah satu universitas terkemuka yang berada di propinsi Kalimantan Utara (kalimat tidak baku). Menjadi: Universitas Borneo Tarakan adalah salah satu universitas terkemuka yang berada di provinsi Kalimantan Utara (kalimat baku).
17.   Merk-Merek
        Mispita hanya ingin menggunakan kosmetik dengan merk terkenal (kalimat tidak baku). Menjadi: Mispita hanya ingin menggunakan kosmetik dengan merek terkenal (kalimat baku).
18.   Rebo-Rabu
        Pendi akan berangkat ke Korea Selatan pada hari rebo (kalimat tidak baku). Menjadi: Pendi akan berangkat ke Korea Selatan pada hari rabu (kalimat baku).
19.   Sorga-Surga
        Kita harus mengumpulkan amal sebanyak mungkin agar dapat masuk sorga (kalimat tidak baku). Menjadi: Kita harus mengumpulkan amal sebanyak mungkin agar dapat masuk surga (kalimat baku).
20.   Karir-Karier
        Karir Jodi semakin meningkat setelah menyanyikan lagu barunya (kalimat tidak baku). Menjadi: Karier Jodi semakin meningkat setelah menyanyikan lagu barunya (kalimat baku).


Daftar Pustaka
Zaenal Arifin, S. Amran Tasai, (2004). Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Akademika Pressindo: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar