Selasa, 06 Juni 2017

3 macam sastra anak

Hai Guys!!! Im come back!
jangan bosan ya liat mimin balik  lagi kalau kalian nyari materi bahasa Indonesia. HihIhi
Mimin kali ini balik lagi buat bagiin materi 3 macam sastra anak. Hayuuu silahkan dibaca, lumayan loh nambah-nambah ilmu. Wkwkwkwk

1. Puisi anak
a. Pengertian puisi anak
Secara keseluruhan, puisi anak memiliki pengertian yang sama dengan puisi pada umumnya. Hanya saja, untuk unsur-unsurnya puisi anak memiliki perbendaan dengan puisi dewasa. Menurut Nurgiyantoro pengertian puisi anak dapat dilihat dari karakteristik yang dapat memberikan gambaran tentang puisi itu sendiri.

b. Kriteria pengertian contoh puisi anak
- Puisi anak adalah puisi yang berisi gambaran
- Mengutamakan bunyi bahasa dan membangkitkan semangat bermain bahasa
- Memperbaiki ketajaman imajinasi visual dan kata yang dipergunakan mengembangkan imajinasi dan minat serta mendengar kata-kata dalam cara baru
- Cerita yang sederhana dan memperlihatkan tindakan sehari-hari
- Ditulis berdasarkan pengalaman anak
- Berbentuk informasi sederhana
- Tema puisi yang dapat menyenangkan anak-anak
- Dapatdibaca dan dimengerti oleh anak-anak

2. Prosa anak
a. Pengertian prosa
Prosa adalah karya sastra yang berisikan tulisan bebas.Bebas memiliki arti bahwa tidak terikat dengan aturan aturan menulis seperti adanya rima, diksi, irama, dan lainnya.

b. Jenis-jenis prosa
- Prosa lama
adalah bentuk karya sastra yang belum dipengaruhi oleh kebudayaan barat. Bentuk-bentuk dari prosa lama antara lain sebagai berikut:
1. Hikayat, adalah tulisan fiktif atau tidak masuk akal yang menceritakan tentang kehidupan para dewa, dewi, pangeran, raja, dan lainnya.Contohnya hikayat hang jebat.
2. Sejarah, adalah tulisan yang menceritakan tentang peristiwa tertentu. ada 2 jenis sejarah yaitu sejarah sastra lama dan baru.
3. Kisah, adalah tulisan pendek. menceritakan tentang cerita perjalanan, pengalaman, ataupun pengalaman orang jaman dahulu.
4. Dongeng, yaitu khayalan-khayalan masyarakat pada jaman dahulu. dongeng terdapat berbagai macam bentuk, seperti mitos, legenda, fabel, sage, dan jenaka.
-Prosa baru
adalah bentuk karya sastra yang telah dipengaruhi oleh budaya barat. bentuk prosa lama dianggap tidak modern dan ketinggalan jaman. berikut ini adalahbentuk-bentuk prosa baru:
1. Roman, adalah tulisan yang mengisahkan hidup seseorang dari lahir hingga meninggal secara menyeluruh.
2. Novel, adalah cerita yang panjang tentang kehidupan, dan memiliki sifat yang bias fiktif maupun non fiktif
3. Cerpen, yaitu cerita pendek yang menceritakan sebagian kecil dari pelaku utama. konflik yang mengubah sifat karakter utama inilah yang membedakan cerpen dengan novel.
4.Riwayat, bercerita tentang kisah hidup orang atau biasanya tokoh terkenal yang menginspirasi.
5. Kritik, adalah bentuk tulisan yang sifatnyas memberi alasan atau menilai/menghakimi karya atau hasil kerja seseorang.
6. Referensi, adalah tulisan yang merangkai atau mengulas suatu karya baik itu buku, seni, musik, film, atau karya lainnya.
7. Esai, yaitu tulisan yang berisikan sudut pandang atau opini pribadi tentang suatu hal yang menjadi topik dalam tulisan tersebut.

3. Drama anak
a. Pengertian Drama anak
Drama adalah karangan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku yang dipentaskan. Drama juga disebut seni pertunjukan atau teater.

b. Unsur-unsur interinsik drama
-Alur, rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita
- Penokohan, gambaran watak tertentu dari setiap penokohan. penokohan dalam drama dibagi menjadi 3 jenis,yaitu: (1) Protagonis, yaitu tokoh yang menampilkan kebaikan, (2) Antagonis, yaitu tokoh yang menampilkan kejahatan atau bersifat jahat dan (3) Tritagonis, yaitu pemain ;endukung protagonis untuk mendukung kebaikan.
-Latar, yaitu keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana draman yang dibawakan.
-Amanat, adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton. amanat dapat disampaikan lewat pemeranan tokoh dalam drama baik melalui pengucapan maupun perbuatan tokoh.


DAFTAR PUSTAKA


Jumat, 19 Mei 2017

Contoh Prosa

Hai guys!! Welcome back to my blog!!!
Kali ini mimin datang lagi buat share tentang prosa. Prosa yang mimin share kali ini adalah prosa berjeniskan cerpen fabel. Maaf ya kalau cerpen yang mimin buat ini belum bisa sebagus cerpen yang pernah kalian baca. hehehe~

Kisah Raja Bijaksana dan Kesabaran Jerapah
Karya: Andriani Putri Lestari

Suatu hari, semua rakyat pada hutan Suka Maju terlihat berkumpul di padang rumput kerajaan. Terlihat raja hutan yaitu raja Singa membawa seekor beruang kusam dengan tas biola ditangan kanannya. Semua rakyat merasa penasaran dengan beruang yang dibawa oleh sang raja. Kemudian sang raja memperbaiki posisi duduknya diatas singgasana dan mulai berbicara.
“Hai rakyat Hutan Suka Maju yang berbahagia! Maksud saya untuk mengumpulkan kalian disini adalah untuk memperkenalkan beruang coklat ini kepada kalian semua!” Kata raja tersebut dengan penuh wibawa. Merasa ada yang aneh dengan sikap raja, seekor jerapah memberanikan diri untuk bertanya kepada sang raja.
“Wahai raja yang sangat saya hormati. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin bertanya kepada anda yang mulia!”
“Silahkan rakyatku! Bertanyalah apapun yang ingin kau pertanyakan.” Kata raja dengan sangat sopan kepada rakyatnya.
“Ada apakah gerangan anda membawa beruang kusam itu ke lingkungan kerajaan kita? Lihatlah raja, semua rakyatmu adalah rakyat-rakyat yang berkecukupan. Lihatlah penampilan mereka! Bukankah baik dipandang mata wahai raja? Sedangkan dia adalah beruang yang sangat kusam dan tak enak dipandang mata! Untuk apa dia ada dilingkungan kita wahai yang mulia?”
Dengan sangat percaya diri, raja mendorong langkah beruang itu ke depannya dan tersenyum kecil. “Jangan malu beruang. Tunjukkan lah kepada semua rakyatku ini!”. Kemudia beruang itu mulai memainkan biola yang ia pegang. Awalnya, beruang merasa kurang percaya diri dikarenakan ini adalah pertama kalinya ia memainkan biola didepan seorang raja besar. Namun, dengan keyakinan diri ia mulai melakukannya. Gesekan-gesekan yang keluar dari senar biola tersebut akhirnya membuat para hewan terpaku. Mereka sangat menikmati lagu yang dimainkan oleh beruang kusam itu.
“Inilah alasan saya wahai jerapah mengapa saya membawanya ke negeri kita. Sudahkah kau melihat ayam yang ada dinegeri seberang sana? Suaranya begitu indah. Bahkan ayam itu sudah pergi keberbagai negeri untuk memenuhi undangan kerajaan. Sedangkan dinegeri kita ada apa? Kerapihan kalian tidak selalu mendukung kesuksesan negeri kita. Kita juga membutuhkan seseorang yang bisa membawa nama negeri kita kemanapun ia pergi.” Kata sang raja dengan penuh percaya diri. Jerapah mulai merasa menyesal telah meremehkan beruang berbakat itu. Ia terlihat menundukkan kepala dan mulai mundur kebelakang. Saat ia ingin berbalik pulang, terdengar suara raja memanggilnya.
“Jerapah!! Kemana kau akan pergi?” kata raja yang kemudian membuat jerapah kaget dan berbalik badan.
“Maafkan saya wahai raja. Saya terlalu merendahkan beruang itu. Sehingga saya tidak melihat apa kemampuan yang ia miliki. Saya merasa sangat malu wahai raja!” Kata jerapah sambil terus menunduk malu.
“Bagus jerapah! Wahai semua rakyatku. Contohlah penyesalan jerapah ini. Ambillah pelajaran dari kejadian tadi. Jangan merendahkan seseorang dari tampilan fisik. Tanpa mengetahui apa yang mereka miliki sebelumnya.” Kata raja dengan sangat bijaksana. Jerapah hanya tertunduk diantara kerumunan rakyat yang turut memperhatikannya. “Baiklah jerapah! Saya ingin kamu menjadi teman untuk beruang ini. Bawalah ia pergi untuk merapikan diri, bantulah ia untuk memperoleh makanan dan bawalah ia untuk berkeliling di negeri kita ini. Saya percayakan ia kepadamu wahai jerapah!” Mendengar kata-kata itu, jerapah langsung bersemangat. Tidak ada satupun rakyat yang diberi suatu kepercayaan langsung dari raja terkecuali para pelayan istana. Betapa beruntungnya jerapah kali ini.
“Baiklah raja. Saya akan menjalankan perintah yang raja berikan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan anda wahai raja!” kata jerapah dengan sangat semangat.
Jerapah akhirnya membawa beruang untuk berkeliling dinegeri mereka.
“Jerapah, kenapa negerimu ini memiliki rakyat yang sangat rapih dalam berpenampilan?” tanya beruang sambil berjalan bersama jerapah.
“Awalnya, ayah dari raja kita yang sekarang tidak memperdulikan negeri ini. Sampah dimana-mana, kemiskinan, kekeringan dikarenakan raja yang tidak perduli dengan distribusi air, serta kelaparan yang kami rasakan. Ia hanya memperdulikan ketamakannya, kebanggaannya sebagai raja, dan perjalanan kenegaraannya. Sehingga ia tidak perduli dengan negaranya sendiri dan juga rakyat-rakyatnya. Anaknya yaitu raja kita sekarang merasa tidak nyaman dengan kondisi negeri ini. Sehingga ia secara diam-diam merubah semuanya dengan bantuan orang kepercayaannya. Saat semua misi yang ia jalankan berhasil, rajapun baru tersadar bahwa rakyatnya pernah mengalami kesusahan. Sehingga dengan kerelaan hati, ia memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada raja kita ini.” Kata jerapah panjang lebar.
“Maka dari itu, kau sangat bangga jika menjadi orang kepercayaan raja bukan?” tanya beruang.
“Ya, benar sekali.” kata jerapah sambil tersenyum kecil. “Oh iya, beberapa hari lagi akan ada musim panas. Pasti kita akan kekeringan, ini adalah saatnya kita untuk mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya agar kita tidak kehabisan makanan dan kelaparan saat musim panas nanti.”
“Benarkah? Baiklah, besok lusa kita berdua akan mengumpulkan makanan. Hari ini aku ingin merapikan diriku terlebih dahulu untuk pertunjukan biolaku besok.”
Keesokan harinya, jerapah menemani beruang untuk melakukan pertunjukan biola di negeri seberang. Bawaan beruang sangat banyak. Ia membawa berbagai makanan, air berliter-liter, membawa pakaian yang sangat banyak dan membawa sebuah payung besar. Semua barang yang ia bawa, ia berikan kepada jerapah untuk membawanya. Jerapah awalnya merasa sangat keberatan, namun dikarenakan hal ini adalah perintah dari sang raja, ia pun menyanggupinya.
“Untuk apa kau membawa semua ini beruang? Kita disana hanya sebentar. Tidaklah perlu membawa barang sebanyak ini!” Kata jerapah ditengah perjalanan. Ia terlihat kelelahan saat membawa semua barang-barang tersebut.
“Jerapah! Ingatlah satu hal, kau adalah orang kepercayaan dari kerajaan untuk mengawalku kemanapun aku pergi. Berarti ini adalah salah satu tanggung jawabmu. Perjalananku kali ini mewakili negeri kita. Harusnya kau tak perlu banyak mengomel jerapah!” Jerapah mulai kesal. Namun, ia hanya memikirkan tanggung jawabnya sebagai salah satu kepercayaan kerajaan. Sehingga ia hanya bisa menuruti kemauan sang beruang.
Keesokan harinya, beruang mengajak jerapah untuk mengumpulkan makanan sebelum musim panas datang. Namun, kejadian pada hari sebelumnya kembali terulang. Beruang kembali menyusahkan keberadaan jerapah. Sang beruang tak memberikan sedikitpun makanan yang ia dapat kepada jerapah. Dan jerapah pun tidak dapat mencari makanan dikarenakan terhalang oleh bawaan beruang yang begitu banyak.
Jerapah merasa ingin marah besar kepada beruang. Namun yang ia ingat kembali adalah kepercayaan raja. Ia tidak ingin kepercayaan raja kepadanya hilang hanya karena emosinya. Namun, terlihat dari kejauhan ada seekor burung beo yang melihat keadaan jerapah. Burung beo itupun segera melaporkannya kepada raja. Saat raja mendengar penjelasan burung beo, betapa marahnya ia. Ia tidak menyangka bahwa beruang yang ia kasihani malah hanya dapat menyusahkan rakyat kepercayaannya. Akhirnya raja menyuruh burung beo untuk memanggil jerapah dan beruang untuk menghadap kepadanya.
Jerapah dan beruangpun sampai dikerajaan. Raja pun terlihat menyiapkan 2 tempat besar dengan isian yang berbeda. Tempat  pertama berisikan buah-buahan yang manis dan segar. Sedangkan tempat  kedua berisikan secawan air putih.
“Selamat datang beruang dan jerapah! Kalian adalah tamu kehormatanku untuk hari ini. Beruang berbakat yang membawa nama negeri kita keberbagai wilayah dan jerapah yang menjadi salah satu rakyat yang paling kupercaya. Aku tahu bahwa kau mengerjakan tugasmu dengan sangat baik wahai jerapah.” Beruang dan jerapah hanya tersenyum mendengarkan pujian dari sang raja.
“Sebagai balasan terima kasihku kepada kalian, aku akan menjamu kalian hari ini diistanaku. Silahkan, satu tempat untuk satu dari kalian!” Kata raja sambil tersenyum kecil. Beruang tanpa berfikir panjang langsung berlari menuju meja dan memakan buah-buahan yang disediakan raja. Namun, jerapah dengan pelannya berjalan menuju tempat berisi secawan air putih dan meminumnya. Betapa leganya perasaan jerapah yang dari tadi kelelahan dikarenakan harus membawa barang-barang dari beruang. Setelah meminumnya, iapun mundur kebelakang beruang dan memperhatikan beruang yang tengah asyik makan. Raja tersenyum saat melihat apa yang terjadi didepan matanya.
Setelah beruang makan, raja memanggil keduanya untuk menghadap didepannya. “maafkan saya raja, akankah saya memiliki kesalahan sehingga anda memanggil saya kemari?” tanya jerapah yang heran dengan perlakuan raja. Raja hanya senyum dan memanggil burung beonya.
“Jerapah, terima kasih! Karena kau sudah menjalankan tugas yang saya berikan dengan sangat baik. Saya akan mengangkatmu menjadi pengawal pribadi saya mulai sekarang. Saya suka kesabaranmu dalam menghadapi beruang dengan sifat tamaknya.” Kata raja yang membuat beruang tampak kaget.
Beruang hanya bisa terlihat marah kepada jerapah, “Jerapah!! Apa yang kau lakukan?! Sejak kapan kau melaporkan semua perlakuanku pada raja??” Beruang mulai tidak sadar dengan apa yang ia katakan. Sehingga raja semakin percaya dengan apa yang dikatakan oleh burung beo. Beruang sontak kaget karena secara tidak sadar ia membocorkan perlakuannya didepan raja. Jerapah hanya terdiam dan tidak mengucapkan apa-apa.
“Saya mengetahui itu semua dari salah satu pelayan kerajaan. Jangan salahkan jerapah wahai beruang. Janganlah menjadi seorang yang melempar batu sembunyi tangan!” Kata raja dengan nada yang sedikit agak tinggi.
Beruang hanya tertunduk malu dan keluar dari istana. Ia akhirnya menyadari kesalahan yang ia buat. Ia sangat tidak mengira bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah kesalahan besar.

Akhirnya, jerapah pun mendapat tempat yang sesuai dengan kesabaran yang ia tahan selama ini. Kini ia menjadi salah satu pekerja istana yang dihormati di kerajaan dan di mata rakyat.


Terimakasih ya sudah membaca prosa yang mimin buat. hehehe

Jumat, 12 Mei 2017

Hubungan antara 3 cabang sastra

Yuhuuu!!! Mimin is back! 
Sekarang mimin datang buat bikin rangkuman tentang hubungan antara 3 cabang sastra. Semoga informasi dari mimin ini bermanfaat yaa  guyss!!!

Pertama, yaitu teori sastra! 
Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum-hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membendakannya dengan yang bukan sastra. Sedangkan teori sastra dalam arti sempit adalah study sistematis mengenai sastra dan metode untuk menganalisis sastra. Namun, secara umumnya yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.

Kedua, yaitu kritik sastra!
Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Talaah sastra adalah memberikan penilaian terhadap sebuiah karya sastra berdasarkan sebuah prinsip sastra dan sesuai dengan karya sastra tersebut. kajian sastra adalah proses atau pembuatan mengkaji, menyelidik, dan menelaah objek material sebuah sastra. Analisis sastra adalah bagian dari kegiatan apresisasi sastra dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap karya sastra itu sendiri. Penelitian sastra adalah cara, strategi, untuk memahami sebuah sastra.
Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan untuk mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan.

ketiga, yaitu sejarah sastra!
sejarah sastra adalah bagian ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Didalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra serta peristiwa-peristiwa yang terjadi seputar masalah pada sastra.

Hubungan antara teori, kritik dan sejarah sastra yaitu memiliki kaitan yang erat, karena dalam pembelajaran sastra dituntut untuk memahahi mengenai teori sastra terlebih dahulu yang mencangkup mengenai hakikat sastra, unsur sastra, dan penilaian terhadap karya sastra. Kemudian sejarah sastra merupakan hal yang benar dan pernah terjadi pada waktu sebelumnya. Maka dari itu sejarah sastra sangatlah penting sebagai fakta yang dapat dituntut secara rasional. Kemudian pada hubungan kritik sastra, dimana kita akan menilai dari sebuah karya sastra yang pernah dibuat  mengenai keindahan, kelebihan dan kekurangan.


Daftar pustaka:

Karakter kartun pembelajaran

Hai guysss!!! Balik lagi nih ke Blog aku!
Kali ini aku dapat tugas dari dosen buat bikin karakter kartun yang bisa dipakai untuk mengajar. Karakter ini insya Allah akan ada dalam pembelajaran dan akan menjadi korban dalam kegiatan menyimak dan lainnya.


Hai!! Perkenalkan! Ini karakter kartun  yang mimin beri nama Pute. Kenapa namanya Pute? Ya berhubung miminnya nda bisa mikir nama dulu buat si ucul di atas ini, jadi mimin kasi nama itu dulu. Btw, Pute itu nama panggilannya mimin loh. Hihihi, lagipula mirip mimin juga kan. G-E-N-D-U-T-S!!!
Terimakasih!! ^_^

mimin: Saya (yg mempublikasi).


Permainan Tradisional Nusantara

Hai guys!!!
Sekarang aku bakalan bagiin ke kalian semua soal permainan yang jaman dulu sering kita mainin. Yup!!! Benar banget! Permainan tradisional yang mungkin anak-anak sekarang sudah lupain. Efek canggihnya tekhnologi yang kini membuat anak lebih sering didalam rumah dan tidak berbaur dilingkungan sosialnya. Untuk kali ini, aku bakal share ke kalian soal permainan ini yaa! Ada yang masih ingat ini enggak? "Ampar ampar pisang, pisangku belum masak!" Hihihi ^_^ Throwback dikit yuk!!!

1. Lagu ini pasti kalian kenal loh guys!! Yuk nyanyiin!
"Ampar ampar pisang
pisang ku belum masak
masak sabigi dihurung bari-bari
masak sabigi dihurung bari-bari"

"Manggalepak manggalepok
patah kayu bengkok
bengkok dimakan api
apinya clangcurupan
bengkok dimakan api
apinya clangcurupan"

"Nang mana batis kutung
Dikitip bidawang
nang mana batis kutung
dikitip bidawang"

2. Asal mula permainan ampar-ampar pisang
Ampar-ampar pisang adalah lagu daerah dari Kalimantan Selatan. Katanya, lagu ini dinyanyikan oleh rakyat sekitar sambil membuat kue yang terbuat dari pisang yang disebut dengan rimpi. Pisang tersebut disusun atau orang Banjar sering bilang di ampar dan dibiarkan sampai matang mendekati busuk. Kemudian pisang tersebut dijemur dibawah sinar matahari sampai mengering dan mengeluarkan bau khas pisang yang manis.
Rimpi ini biasanya suka dikerumuni oleh bari-bari atau sekumpulan binatang kecil yang suka dengan aroma pisang dan sering terbang menghinggapi rimpi tersebut.
Lagu ini dibuat untuk menakuti anak-anak yang sering mencuru rimpi ini selama proses pembuatannya.Dimana terdapat kata, "nan mana batis kutung" yang artinya yang mana kaki buntung, sedangkan "dikitip bidawang" yang artinya digigit kura-kura besar atau biawak.

3. Langkah-langkah permainan.
Jujur, saya dulu sangat sering memainkan permainan ini. Karena menurut saya permainan ini sangatlah mudah dan tidak memerlukan tega yang ekstra dalam melakukannya. Cara bermainnya yaitu dengan mengumpulkan anak-anak sebanyak 2 anak atau lebih. Kemudian semua anak akan duduk dan menyelonjorkan kakinya ke depan dengan formasi melingkar. Lalu anak-anak akan menyanyi lagu ampar ampar pisang sambil menepuk bergiliran kaki setiap anak. Kaki siapa yang terakhir disentuh saat lagu habis akan menekuk kakinya kebelakang. Lalu lanjutkan sampai ada salah seorang anak yang salahsatu kakinya tidak terlipat. Maka anak itu akan dianggap kalah.

4. Manfaat permainan
Permainan ini bermanfaat untuk memupuk kekompakan anak-anak dan menumbuhkan rasa solidaritas bagi pemain yang kalah dalam permainan.

5. Dimanakah saja biasanya permainan ini dimainkan?
Permainan ini berasal dari Kalimantan Selatan, maka dari itu anak-anak yang berada didaerah tersebut sering memainkan permainan ini. Tapi, saya berasal dari Kalimantan timur dan saya sangat sering melakukan permainan ini. Saya rasa, permainan ini banyak dijumpai diberbagai daerah di Indonesia karena permainannya yang sangat mudah.

6. Apakah permainan ini bisa diterapkan dikelas?
Menurut saya, permainan ini sangat baik diterapkan dalam kelas mengingat manfaatnya yang sangat baik untuk peserta didik.

Daftar Pustaka

Contoh Bentuk Frase yang ada dalam Artikel


Berikut ini adalah contoh dari frase berdasarkan pada artikel yang ada diatas:
1.   Frase Endosentrik Atributif:
Sudah akrab
Seperti Tanjung Selor
Dengan longsor
Keberadaan taruna siaga berencana
Sebagai seorang
Sebelum bencana
Dapat merangkul
Sehingga komunikasi

2.   Frase endosentrik apositif
Bupati Bulungan, H. Sudjati menyampaikan........
Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Bulungan, Agus Nurdiansyah menuturkan........
Mantan kepala Disperindagkop Bulungan ini menambahkan, sebelumnya telah diadakan simulasi bencana.

3.   Frase Eksosentrik
Di lereng-lereng
Di tengah-tengah
Disekitaran
Di pinggiran sungai
Di daerah rawan
Di mana

4.   Frase Verbal
Banjir dan longsor sudah akan
Pasalnya banjir besar juga pernah terjadi

5.   Frase Nominal
Anggota kita ada 100 lebih

6.   Frase Adjektiva, Pronomina, dan Numeralia:
Tidak ditemukan.

Sabtu, 29 April 2017

Sintaksis

Apa itu sintaksis? Sintaksis adalah cabang ilmu yang memoelajari tentang struktur wacana, kalimat, klausa, dan frase.
Lalu, apa itu frase? Satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Serta, frase juga adalah sebuah kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan).
Frase dibagi menjadi 2 jenis, yaitu frase endosentrik dan frase eksosentrik.
1. Frase endosentrik dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu:
a. Atributif, yaitu frase yang unsur-unsurnya tidak setara dan tidak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau. Misalnya buku baru, sedang belajar, belum mengajar.
b. Apositif, yaitu frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tidak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Misalnya Khairul, keponakan pak Bahar sedang bernyanyi.
c. Koordinatif, yaitu frase yang berinduk dan bagian-bagiannya dihubungkan dengan penghubung ganda. Akan tetapi, ada juga yang tidak menggunakan kata hubung. Contoh yang menggunakan kata penghubung yaitu si Ali dan si Bella, orang tua atau wali, dan baik si A maupun si B. Contoh yang tidak menggunakan penghubung antara lain si A, si B, si C telah datang. Meja, kursi, bangku....... . Ayam, itik, kambing.......
2. Frase eksosentrik yaitu frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Contohnya yaitu di dipasar, di sekolah, di desa, dll.

Frase yang ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata dibagi menjadi 5, yaitu:
1. Frase Verbal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan kata kerja sebagai intinya dan tidak merupakan klausa yaitu berpotensinya menjadi sebuah kalimat. Contoh: Adik saya sudah belajar, Ayah saya sedang belajar.
2. Frase nominal, yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contohnya Aiman mendapatkan dua buah kelereng dan Sufian menjual 4 buah lemarinya.
3. Frase adjektiva yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Contohnya yaitu Tino sangat sedih dan Gunung itu sangat tinggi.
4. Frase Pronomina yaitu satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau labih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Contonya Saya sendiri akan menjahit baju ini dan Kami sekalian akan menutup acara ini.
5. Frase Numeralia yaitu dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Contohnya yaitu Sebelas ekor itik telah hilang dan Tiga buah gedung sekolah tengah terbakar.

Daftar Pustaka:
Materi mata kuliah Bahasa dan sastra Indonesia
Pengertian-kata.blogspot.co.id

Morfem bebas dan Morfem terikat yang ada pada sebuah paragraf

Saat aku menoleh kekanan, aku dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang tengah duduk berjarak setengah meter dariku. Entah aku melamun terlalu dalam atau aku yang terlalu kelelahan, aku tak menyadari kehadiran gadis tersebut. Padahal biasanya aku bahkan mudah tahu kalau ada seseorang yang mengendap-endap di belakangku.
Gadis itu menoleh ke arahku, kemudian bibir pucatnya tersenyum menampilkan kawat giginya yang berwarna merah muda. Matanya yang dihias kacamata bulat terlihat menyipit. Rambutnya yang dikepang dua menyisakan sedikit anak rambut di depan telinga yang bergoyang-goyang diterpa angin. Gadis itu mengulurkan tangan kanannya.

Morfem Bebas yang terdapat pada penggalan cerpen diatas adalah sebanyak 54 kata (lihat pada kata yang berwarna merah).
Morfem Terikat yang terdapat pada penggalan cerpen diatas adalah sebanyak  
32 kata (terlihat pada kata yang berwarna biru).


Daftar pustaka: 
Sumber cerpen: http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/bulan-dan-venus.html

Morfologi

Apa itu morfologi? Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan dalam kata pada arti kata.
Dalam morfologi terdapat fonem. Yaitu pembentukan kata baru yang memiliki sebuah arti baru dan hanya dengan menambahkan imbuhan pada kata tersebut. Berikut ini adalah bentuk-bentuk morfem, antara lain:
1. Morfem bebas, adalah morfem yang bersifat bebas dan dapat berdiri tanpa bantuan morfem lain. Contohnya rumah, tahan, amanah, dll.
2. Morfem terikat, adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya dapat berdiri jika dibantu dengan morfem lain. Morfem terikat sendiri dapat diartikan sebagai imbuhan. Contohnya: ber, mem, men, per, en, i, kan, dll.
Pada Morfologi dibagi menjadi 3 proses, yaitu:
1. Pembubuhan Afiks (afiksasi) yaitu membubuhkan imbuhan pada suatu kata. Proses ini dibagi menjadi 5 bentuk.
a. Prefiks (Awalan) antara lain ber, me, pe, per, di, ter, ke, se. Contoh kata: Menjahit, Tercantik, dan Bermimpi.
b. Surfiks (Akhiran) antara lain kan, an, i. Contoh kata: Hindari, Kenalkan, dan Tiduran.
c. Infiks (Sisipan) antara lain el, er, dan em. Contoh kata yaitu Leluhur.
d. Konfiks (Awal dan akhir) antara lain ber-kan, per-kan, per-in, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, ter-kan, ter-i, dan ke-an. Contoh katanya antara lain : Mempercayai, Diberikan, Keindahan.
e. Simulfiks antara lain memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i. Contoh katanya antara lain: Mempertahankan, Dipertanyakan.
2. Proses pengulangan (Reduplikasi) yaitu pembentukan kata ulang yang memiliki makna berbeda dari kata dasar. Contohnya bertele-tele.
3. Proses pemajemukan yaitu menggabungkan dua kata berbeda hingga menciptakan kata baru. Contohnya gegap gempita, tenis meja, kamar kecil, dll.


Daftar pustaka:



Pengucapan Huruf dalam Fonologi

No
Huruf
Penjelasan
1
Vokal
Aa: Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Uu: Kedua bibir kebawah, rahang lebih keatas, Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Oo: Bibir dan rahang bawah lebih kebawah, kedua bibir membundar, Bibir membundar, lidah kebelakang dan menurun.
Ee: Bibir rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan kebawah, rahang kebawah.
Ii: Lidah lebih ke atas, Bibir rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan kebawah.
2
Konsonan
B: Bunyi bilabial, hambat, bersuara.
P: Bunyi bilabial, hambat, tak bersuara.
M: Bunyi bilabial, nasal, bersuara.
W: Bunyi bilabial, semi vokal, bersuara.
V: Bunyi labiodental, geseran, bersuara.
F: Bunyi labiodental, geseran, tak bersuara,
D: Bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara.
T: Bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara.
N: Bunyi apikoalveolar, nasal, bersuara.
L: Bunyi apikoalveolar, sampingan, bersuara.
R: Bunyi apikoalveolar, getar, bersuara.
Z: Bunyi laminoalveolar, getar, bersuara.
N: Bunyi laminopalatal, nasal, bersuara.
J: Bunyi laminopalatal, paduan, bersuara.
C: Bunyi laminopalatal, paduan, tak bersuara.
S: Bunyi laminopalatal, geseran, tak bersuara.
G: Bunyi dorsovelar, hambat, bersuara.
K: Bunyi dorsovelar, hambat, tak bersuara.
X: Bunyi dorsovelar, geseran, bersuara.
H: Bunyi laringal, geseran, bersuara.
3
Diftong
Ai: Bibir terbuka lebar, Lidah semakin tinggi sehingga mulut lebih tertutup.
Oi: Bibir membundar, Lidah semakin tinggi, bibir tertutup dan bibir rata ke ujung bibir
Au: Bibir terbuka lebar, Lidah semakin tinggi sehingga mulut lebih tertutup, rahang lebih kebawah.
4
Kluster
Kh: Cenderung dalam penyebutan huruf H, terjadinya pengeluaran nafas yang lebih banyak karena tidak adanya hambatan, rahang bawah lebih turun.
Sy: Rahang bawah naik, ujung lidah menyentuh gigi bawah, pada akhirnya bibir terbuka.
Ny: Lidah tengah menyentuh langit-langit atas mulut.

Selasa, 18 April 2017

Fonologi Bahasa Indonesia


Fonologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang seluk beluk kata, adanya udara yang masuk dan keluar dalam rongga pernapasan dan mempelajari bunyi bahasa yang keluar dari alat ucap. Selain itu fonologi juga merupakan ilmu pembendaharaan bahasa dan distribusinya.
Fonologi dibagi menjadi dua cabang, yaitu:
1. Fonetik: Ilmu biologi yang mempelajari sebuah bunyi. Pada fonetik dibagi menjadi tiga bentuk yaitu:
-Artikulatoris: Yaitu bunyi yang diproduksi dari alat ucap manusia (organis/fisiologis)
-Akustik: bunyi yang ada dalam bentuk rambatan di udara, gelombang dan frekwensi.
-Auditoris: yaitu bagaimana bunyi didengar oleh rongga pendengaran manusia.
2. Fonemik: Sistem fonem dimana berperan sebagai pembeda arti.

Fonologi atau bunyi yang diciptakan oleh alat ucap manusia dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu:
1. Konsonan yaitu bunyi bahasa yang dibentuk akibat adanya hambatan pada alat ucap manusia. berikut ini adalah contoh kinerja alat ucap saat penyebutan huruf konsonan.
- Pengucapan B, P, M : Mempertemukan bibir atas dan bibir bawah.
- Pengucapan H : Pita suara terbuka lebar.
- Pengucapan K, G, Ng, Kh, Q : Lidah belakang dan langit-langit lembut bertemu.
- Pengucapan F, V, W : Mempertemukan gigi atas dan bibir bawah.
- Pengucapan F, D, N : Ujung lidah bertemu dengan area lengkungan gigi.
- Pengucapan S, Z, Sy : Udara dari paru-paru mendapatkan halangan dari getaran lidah.
- Pengucapan R tidak jelas : Anak tekak sebagai artikulator, lidah belakang sebagai titik.
- Pengucapan R jelas : Memperdekatkan lidah kelangit-langit lembut atau lengkungan gigi dalam sistem getar.
2. Vokal, yaitu bunyi bahasa yang dibentuk akibat tidak adanya hambatan pada alat ucap manusia. Pengucapan huruf vokal dibagi menjadi dua bentuk, yaitu vokal semi tertutup dan vokal tertutup. vokal semi tertutup yaitu pada rongga lidah diangkat dalam ketinggian 2/3 diatas vokal terbuka ( E, O, I, U ). Vokal tertutup yaitu pada rongga lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit ( I, U ). Berikut ini adalah contoh kinerja alat ucap saat penyebutan huruf vokal.
- Pengucapan A : Bibir membundar, lidah agak kebelakang dan sedikit menurun.
- Pengucapan U : Bibir membundar dan menurun, lidah cenderung kebelakang dan sedikit menurun, dan rahang lebih keatas.
- Pengucapan O : Bibir membundar, menurun dan melebar, lidah kebelakang dan sedikit menurun, rahang bawah lebih kebawah.
- Pengucapan I : Bibir relatif rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah lebih kedepan dan cenderung ke atas.
- Pengucapan E : Bibir relatif rata dengan kedua ujung bibir kesamping, lidah kedepan, lidah dan rahang cenderung kebawah.
3. Semi Vokal : Yaitu dibentuk tanpa menghambat arus udara sehingga serupa dengan vokal dan dibentuk dengan pita suara. Semi vokal ini dapat ditemukan pada penyebutan huruf W dan Y.

Proses pembentukan bunyi
- Arus Udara
Arus udara menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahasa yang merupakan hasil kerja alat atau organ tubuh yang dikendalikan oleh otot tertentu atas perintah saraf otak. Arus udara dalam proses pembentukan bunyi dibagi menjadi dua. yaitu:
1. Arus udara yang masuk ke paru-paru (Ingresif)











2. Arus udara yang keluar dari paru-paru (Agresif)











- Pita Suara
Pita suara meupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk paru-paru. Pita suara terletak pada kerongkongan dalam posisi mendapar dari muka kebelakang.

Pita suara dengan glotis tertutup
pada permulaan akan
membuka.









Pita suara dengan
glotis membuka
sedikit pada ujung
interior.







Glotis terbuka hampir
sepanjang pita
suara








Pita suara terbuka
seluruhnya.








-  Alat-alat ucap
Ketika berbicara, organ-organ tubuh yang disebut sebagai alat ucap itu bekerja seperti seperti pada proses ketika melakukan fungsi utamanya masing-masing. Jadi tidak ada perbedaan operasional yang berarti. Hanya soal pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat pembentukan bunyi.
Organ-organ tubuh yang digunakan sebagai alat ucap dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu (a) komponen supraglotal, (b) komponen laring dan (c) komponen subglotal.


(a) Komponen Supraglotal
Komponen ini terdiri dari 3 rongga yang berfungsi sebagai lubang resonansi dalam pembentukan bunyi, yaitu (1) rongga kerongkongan (faring), (2) rongga hidung dan (3) rongga hidung.
Rongga kerongkongan berfungsi sebagai tabung udara yang akan turut bergetar apabila pita suara menimbulkan getaran pada arus udara yang lewat dari paru-paru.
Rongga hidung mempunyai bentuk dan dimensi yang relatif tetap tetapi dalam kaitannya dalam pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonansi.
Rongga mulut merupakan rongga yang paling penting diantara ketiga rongga yang ada pada supraglotal. Bagian-bagian alat ucap yang terdapat dalam rongga mulut yang bisa digerakan disebut artikulator, dan bagian bagian alat ucap yang menjadi sasaran sentuh disebut dengan titik artikulasi. Berikut ini berbagai alat-alat ucap bagian atas rongga mulut manusia.

Penjelasan:
Bibir atas (labium)
Gigi atas (dentum)
Pangkal gigi atas (alveolum)
Langit-langit keras (palatum)
Langit-langit lunak (velum)
Anak tekak (uvula)

Berikut ini berbagai alat-alat ucap bagian bawah rongga mulut:

Penjelasan:
Bibir bawah (labiu)
Gigi bawah (dentum)
Ujung lidah (apeks)
Tengah lidah (lamina)
Belakang lidah (dorsum)
Akar lidah (dorsum)

(b) Komponen Laring
Laring merupakan kotak yang berbentuk tulang rawan berbentuk lingkaran. Didalamnya terdapat pita suara. Laring dengan kerja pita suara inilah yang berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung.

(c)Komponen Subglotal
Komponen ini terdiri atas paru-paru kiri dan kanan, bronkial, dan saluran pernafasan (trakea). Fungsi utama komponen ini adalah untuk pernapasan , yaitu mengalirkan udara dari dan ke paru-paru.


Daftar Pustaka:
Masnur Muslich. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Malang: PT. Bumi Askara


Sabtu, 11 Maret 2017

Kongres Bahasa Indonesia


Kongres Bahasa Indonesia adalah pertemuan rutin 5 tahunan yang diadakan oleh pemerintah dan praktisi bahasa dan sastra Indonesia untuk membahas bahasa indonesia dan perkembangannya. Pada mulanya, kongres ini diadakan untuk memperingati hari sumpah pemuda yang terjadi pada tahun 1928. Selanjutnya ajang ini tidak hanya untuk membahas perkembangan bahasa dan sastra Indonesia dan rencana perkembangannya.
Adapun berikut ini Kongres Bahasa Indonesia yang dilakukan setiap 5 tahun, antara lain:

  1. Pada tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kongres ini antara lain Mr. Amin Sjarifoedding, ST. Takdir Alisjahbana, Mr. Muh. Yamin, K.ST. Pamoentjak, tuan Adi Negoro, Ki Hajar Dewantara, R.M. Ng. dr. Poetbotjaroko, tuan Soekardjo Wirjopranoto, Rp. Soeroso, dan tuan Sanusi Pane. Hasil dari kongres di Solo ini dapat disimpulkan bahwa usaha pemimpinan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan kita saat itu. Kemudian pada tanggal 18 Agustus ditandatanganilah UUD 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Selanjutnya pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
  2. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober - 2 November 1954 adalah juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang di angkat sebagai bahasa nasional dan ditetapkan sebagai bahasa negara pada saat itu. Dengan tokoh-tokohnya antara lain:Sudarsana sebagai ketua dalam penyelenggaraan kongres, dr. Slamet Muljana sebagai wakil ketua penyelenggaraan kongres, Mangatas Nasution sebagai panitera I, Drs. W.J.B.F. Tooy sebagai penitera II, Nur St. Iskandar sebagai panitera III dan Patjowijatno, Amir Hamzah Nasution, serta Laside sebagai Anggota. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1972, Presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan melalui pidato kenegaraan didepan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57, tahun 1972. Tak selang beberapa lama, pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang DIsempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku diseluruh Indonesia.
  3. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober - 2 November 1978. Kongres ini didirikan oleh Presiden Soeharto dan dr. Daoed Joesoef. Kongres ini bisa dibilang merupakan peristiwa penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kongres ini diadakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang kelima puluh ini, selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
  4. Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta pada 21-26 November 1983. Tokoh-tokoh yang ada dalam kongres ini adalah tokoh-tokoh dari lembaga pemerintah, departemen dan non departemen, organisasi profesi, guru, mahasiswa, para ilmuan yang mewakili berbagai bidang ilmu dan tekhnologi, serta peminat dari luar dan dalam negeri. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda yang ke 55. Dalam keputusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih di tingkatkan sehingga amanat yang tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan dapat tercapai semaksimal mungkin.
  5. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Istana Negara Jakarta pada 28 Oktober sampai 3 November 1988. Tokoh-tokoh yang ada dalam pelaksanaan kongres ini adalah Soeharto, Prof. dr. Fuad Hassan dan Anton M. Moeliono. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira 700 pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini ditandai dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa di Nusantara, yakni berupa (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia dan (2) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  6. Kongres Bahasa Indonesia VI diadakan di Hotel Indonesia Jakarta pada tanggal 28 Oktober sampai 2 November 1993 yang diikuti oleh 770 pesera dari seluruh Indonesia, 53 peserta tamu dari mancanegara yaitu Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam pelaksanaan kongres ini antara lain Ir. Azwar Anar, dr. B. J. Habibie, Prof. Dr. Fuad Hassan, Dr. Boediona, dan Dr. H. Hasbullah Mursyid. Kongres ini mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
  7. Kongres Bahasa VII diselenggarakan di Hotel Indonesia Jakarta pada 26-30 Oktober 1998. Tokoh-tokoh penyelenggara kongres ini antara lain Hasan Alwi, Dendy Sugono, A. Latief, Amran Halim, Soenjono Durdjowidjojo. Kongres ini mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentuan sebagai berikut: (a) Keanggotaannya terdiri atas tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. (b) Tugasnya ialah memberikan nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 
  8. Kongres Bahasa VIII diselenggarakan si Jakarta pada tanggal 14-17 Oktober 2003. Diikuti oleh 1.200 peserta yang mewakili para peneliti bahasa dan sastra, guru bahasa dan sastra, dosen, pakar bidang ilmu, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, politisi, ahli hukum, pekerja pers, dan mahasiswa dalam maupun luar negeri seperti Australia, Belanda, Brunei Darussalam, Bulgaria, Cina, Italia, Jepang, Malaysia, Prancis, dan Rusia.Pada kongres bahasa kali ini para pakar dan pemerhati bahasa Indonesia menyimpulkan bahwa berdasarkan kongres Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktobel 1928 menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni bahasa Indonesia, maka bulan Oktober dijadikan bulan bahasa. Agenda pada bulan bahasa adalah berlangsungnya seminar bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan bahasa Indonesia.
  9. Kongres Bahasa Indonesia IX dilaksanakan di Jakarta, yakni di tanggal 28 Oktober sampai 1 November 2008. Kongres ini juga memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa. Dicanangkannya tahun 2008 sebagai tahun bahasa, maka sepanjang tahun 2008 diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta 80 tahun sumpah pemuda. Kongres ini membahas 5 hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. kongres ini berskala internasional yang dihadiri pembicara-pembicara dari dalam negeri maupun luar negeri. Pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan pengembangan bahasa indonesia diluar negeri diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres bahasa indonesia ke IX ini.
  10. Kongres Bahasa Indonesia X dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28-31 Oktober 2013. Kesimpulan dari kongres ini adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta pemaparan 6 pemakalah pleno tunggal, diantaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang tergabung dalam kedelapan topik diskusi panel dan diskusi yang berkembang selama persidangan.

Daftar Pustaka: 
Zainal Arifin, S. Amran Tasai (2004), Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Akademika Pressindo: Jakarta.
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PutusanKBI-1-9.pdf

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Hallo Guys! Welcome bact into my Blog!!!
Guys! mimin boleh enggak nanya ke kalian? Gini loh, kalian tau enggak kenapa kata "Makan" itu ada dalam bahasa kita? Terus itu, asal-usul dari bahasa kita itu bagaimana ya guys? Kalau kalian mau tau sejarah bahasa kita, baca artikel yang sudah mimin sediain dibawah ya guys! Love you all <3 (Lovenya enggak butuh min -___-)

A.  Sumber Bahasa Indonesia
      Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu, yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca), bukan saja dikepulauan nusantara, melainkan juga hampir diseluruh Asia Tenggara.
      Bahasa Melayu mulai dipergunakan sebagai alat komunikasi semenjak ditemukannya berbagai batu bertulis (Prasasti) kuno yang ditemukan seperti:

  • Prasasti Kedudukan Bukti di Palembang, tahun 683
  • Prasasti Talang Tuo di Palembang tahun 684
  • Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat tahun 686 
  • Prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi tahun 688 yang bertulis Pra-nagari dan bahasanya bahasa Melayu kuno 
       Memberi petunjuk kepada kita bahwa bahasa Melayu dalam bentuk bahasa Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya. Prasasti-prasasti yang juga tertulis didalam bahasa Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah dan di Bogor. Kedua prasasti dipulau jawa itu memperkuat pula dugaan kita bahwa bahasa Melayu Kuno pada waktu itu bukan saja di pakai di pulau Sumatera, melainkan juga dipakai dipulau Jawa.

      Berdasarkan petunjuk-petunjuk lainnya, dapatlah kita kemukakan bahwa pada zaman Sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut:
  1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.
  2. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antar suku di Indonesia.
  3. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama disepanjang pantai, baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia. 
  4. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi kerajaan.
B. Peresmian Nama Bahasa Indonesia
     Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang dan tumbuh terus. Pada waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan mantap dalam struktur.
      Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan sumpah pemuda. Pernyataan yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dilautan yang menghubungkan pulau-pulau merupakan wilayah Republik Indonesia sekarangadalah satu kesatuan tumpah darah yang disebut Tanah Air Indonesia. Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menepati bumi Indonesia itu juga merupakan satu kesatuan yang disebut bangsa Indonesia. Pernyataan yang ketiga tidak merupakan pengakuan "berbahasa satu", tetapi merupakan pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
     Dengan diikrarkan Sumpah Pemuda, resmilah bahasa melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan abad VII itu menjadi bahasa Indonesia.
C.  Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia
      Ada empat faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut:
  1. Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan.
  2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam bahasa ini tidak dikenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa Sunda (kasar,lemes
  3. Suku Jawa, suku Sunda, dan suku-suku yang lain dengan sukarela meneriman bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
  4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
D.   Peristiwa-peristiwa Penting yang Berkaitan Dengan Perkembangan Bahasa Melayu/Indonesia
  1. Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan dimuat dalam Kitab Logat Melayu.
  2. Pada tahun 1908 pemerintah menditikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (taman bacaan rakyat) yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka menerbitkan buku-buku novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun berrcocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebarab bahasa Melayu dikalangan masyarakat luas.
  3. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada saat itulah para pemuda pilihan memancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia.
  4. Pada tahun 1933 secara resmi bediri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan.
  5. Pada tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan kongres bahasa Indonesia I di Solo.
  6. Pada tanggal 18 Agustus ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
  7. Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
  8. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober-2 November 1954.
  9. Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan melalui pidato Kenegaraan didepan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan keputusan Presiden No. 57, tahun 1972.
  10. Pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku diseluruh Indonesia.
  11. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1978.
  12. Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21-26 November 1983.
  13. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28 oktober-3 November 1988.
  14. Kongres Bahasa Indonesia VI diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-2 November 1993.
  15. Kongres Bahasa Indonesia VII yang diselenggarakan dihotel Indonesia Jakarta pada 26-30 Oktober 1998.
  16. Kongres Bahasa Indonesia VIII yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 14-17 Oktober 2003.
  17. Kongres Bahasa Indonesia IX yang diselanggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008.
  18. Kongres Bahasa Indonesia X yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober-31 Oktober 2013.

Daftar Pustaka: Zaenal Arifin, S. Amran Tasai (2004), Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Akademika Pressindo: Jakarta.