Ku Hanya Ingin Menjadi Satu-satunya
by: Andriani Putri Lestari
12 Juli 2016
by: Andriani Putri Lestari
12 Juli 2016
“You say im craizy.
Cause you dont think what u done.. but when, you call me baby. I know im not
the only one.”
~Sam Smith, Im not the only One~
~Sam Smith, Im not the only One~
3 bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Arga. Kebahagian
lah yang kudapat, karena Arga adalah cinta pertamaku. Selama ini, semuanya baik
baik saja. Ya! Aku dan dia tetap saling mencinta dan saling menyayangi. Kemana
pun ada aku, pastilah ada Arga. Ibuku juga sudah sangat dekat dengannya, bahkan
ia sudah sangat percaya dengan Arga. Ibuku mengetahui hubunganku ini. Tapi
tidak dengan ayahku. Dia mengira bahwa aku dan Arga hanya sebatas teman biasa,
sehingga suatu ketika ia berkata padaku...
“Nina, nanti Arga lanjut kuliah dimana?” Ayahku
tiba-tiba bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari koran.
“Di jogja yah. Mungkin sih! Itu juga baru rencananya
dia.” Kataku dengan santai.
“Kalau gitu, kamu sama dia aja disana. Ayah suka
sama dia, ayah rasa dia bisa jagain kamu nanti. Apalagi ayah sudah rasa kalau
dia bagus jadi kayak kakak kamu.” Kata kata ayah itu sempat membuatku melotot.
Bahkan ujung bibir ibuku sudah mulai ditarik. Hingga membuat bibir tipisnya
tersenyum.
“Betul tuh yah! Aku setuju!” kataku dengan semangat.
Tiba tiba, kakak laki lakiku datang dan langsung menjambak
pelan ujung rambutku.
“Woy! Temanin gue ke Gramedia yok! Temanin gue nyari
buku buat sumber skripsi gue!”
“Loh, bukannya loe bilang kalau mau minta sepupu Meta buat
ngerjain ya ?” kataku sambil
memainkan alis tebalku. Mata bulat ibuku tiba tiba melebar dan ayahku mulai
mengerutkan jidatnya.
“Gila loe yah! Becanda kali gue. Bu, yah! Omongannya
si tengil ini jangan di dengerin. Ngapain Nino minta buatin skripsi. Kan ada
Nina si pintar sejagat raya ini bakal bantuin Nino. Kan sayang??” kata Mas Nino
sambil mencubit daguku.
“Ngapain sih mas loe ngajakin gue nyari buku? Mbak
Meta mana?”
“Meta lagi liburan di kalimantan. Iya kali gue
nyusulin dia buat minta nemenin nyari buku.”
Ditengah percakapanku, aku tidak menyadari bahwa
ibuku tengah membuka social medianya. Mata sipitnya mulai membulat. Hingga
akhirnya, ayahku mulai menegur ibuku yang tengah terpaku.
“Bu! Ibu ngapain diam kayak patung gitu?” Tanya ayah
yang mulai penasaran.
“Biasa lah yah. Ibu kan lagi gencar gencarnya main
sosmed. Kayaknya ayah harus rajin rajin nengokin sosmednya ibu deh.” Kata mas
Nino yang membuatku tertawa kecil.
“Enggak ada apa-apa kok yah. Ini loh sepupu ibu yang
di Beijing ngirimin berita soal ibu ibu yang lagi isi bensin tapi hapenya
nyala. Sampai sampai mobilnya meledak di SPBU.” Kata ibuku dengan nada sedikit
tegang. Ibuku adalah keturunan Beijing asli yang jatuh cinta pada Suyatno yang
asli orang jawa saat ia kuliah di
Beijing dulu bersama ibuku, Ling Ling. Karena ada niat serius, akhirnya ibu
pindah kewarganegaraan dan memeluk islam demi bisa menikah dengan ayah. Hingga
lahirlah mas Nino yang berkulit sawo matang namun sipit, dan aku yang berkulit
putih namun bermata bulat.
Dengan mendengar apa kata ibu, ayah hanya bisa
Istigfar dan melanjutkan untuk membaca koran.
“Nino, kamu mau nyari bukunya di Gramedia yah nak?”
Tanya ibu yang mulai menatap mas Nino.
“Iya bu. Kenapa? Ibu mau titip apa?”
“Enggak kok. Nanti kamu hati hati yah nak. Jagain
adekmu!” kata ibuku.
“Kenapa bu? Nina bukan anak kecil yang harus
megangin baju mas kemana mana loh bu. Enggak mungkin juga kan kalau Nina
hilang!” tanyaku yang mulai aneh dengan ibuku hari ini.
“Enggak apa apa toh Na. Kan ini hari minggu, ya
pasti ramai lah disana nanti. Sana kamu, siap siap. Tu mas mu udah ganteng,
siap buat jalan” kata ibuku dengan nada mengusir.
Aku dan mas Nino pun segera menuju ke Gramedia.
Jalan sedikit agak macet karena hari ini adalah weekend. Dan biasanya aku jalan
menghabiskan hari bersama Arga untuk sekedar menonton dan makan bersama. Namun
kali ini ia tidak bisa karena keluarga besarnya tengah datang dari Bandung dan
ia harus menghabiskan waktunya bersama dengan kerabatnya.
“Mas, hapenya mas nyala tuh. Ibu nelpon!” handphone
itu menyala. Terlihat tulisan ‘Ibu Sipit’ muncul dilayar handphone mas Arga.
“Loe aja Na yang angkat. Mas masih nyetir!” aku
langsung mengambil handphone mas Nino dan menerima panggilan ibu.
“Halo bu! Ini Nina. Mas Nino masih nyetir. Ada yang
mau ibu titip yah?” Tanyaku di telepon itu.
“Nina! Kamu ini kebiasaan yah! Kalau ngangkat telepon
itu salam dulu kek. Assalamualaikum aja kamu lupa!” kata ibuku dari ujung sana.
Walaupun ibuku adalah seorang mualaf, tapi ia sangat taat pada Islam. “Kasih
hapenya ke mas mu. Ibu mau ngomong penting. Cepat!”. Lanjut ibuku. Hal penting
apa yang ia ingin bicarakan dengan mas Nino, bahkan sampai aku tidak boleh
mendengarnya.
“Halo bu. Assalamualaikum. Kenapa bu? Ini Nino.”
Kata masku. Pastilah ibu akan memujinya nanti saat aku sampai dirumah hanya
karena salam itu. Kali ini sepertinya mereka membicarakan masalah khusus.
Bahkan mas Nino sampai mengurangi kecepatannya hanya untuk fokus pada kata kata
ibu. Sedikitpun aku tidak bisa dengar apa yang ibu dan mas Nino bicarakan. Aku
hanya mendengar masku mengucapkan iya, iya dan iya. Setelah menutup telepon,
aku langsung menanyakan apa yang ibu bicarakan. “bilang ibu, kalau nanti gue
udah sidang kita liburan ke Beijing. Ketemu sama Oma, kak Ciau Ling juga mau
tunangan nanti. Jadi nanti kita ikut kesana.”
Aku hanya diam, dalam setahun ini kami sekeluarga
sudah pulang ke Beijing sebanyak 3 kali karena Oma rindu sama anak dan cucunya.
Waipo kami itu sangat keras kepala, apapun yang diminta haruslah dituruti.
Terutama untuk masalah rindu merindu. Aku sudah bosan ke Beijing. Bukan bosan
dengan negaranya. Aku bosan karena dikeluargaku, hanya aku yang tidak bisa
berbicara dengan bahasa Mandarin. Ayah dan ibuku sudah sangat menguasai bahasa
itu, apalagi Masku. Yang sudah berjuta juta kali pulang ke Beijing. Kebetulan
juga, karena mas Nino lahir dan besar di Beijing. Sedangkan aku, lahir dan
besar di Surabaya.
“Loe enggak suka yah kalau kita balik ke Beijing?”
kata masku yang tiba tiba memecahkan keheningan.
“Bukan enggak suka mas, kan loe tau sendiri. Gue
enggak bisa ngomong pake bahasa mandarin. Kenapa sih harus ke Beijing lagi?
Sekali sekali liburan ke Surabaya dong.”
“Yang kangen sama kita itu Oma. Bukan Mbah lanang sama
mbah wedo’.” Kata mas Nino.
“Setidaknya kan gue masih ngerti pake bahasa Jawa
mas. Dari pada gue dirumah Oma kayak orang bego.” Kataku sambil memainkan
alisku.
“Loe sama ayah mah ngerti. Lah? Gue sama ibu
bagaimana?” kata masku yang mulai memarkirkan mobilnya di parkiran mall. Ia
tengah fokus memarkirkan mobilnya disalah satu parkiran kosong. Kali ini
parkiran benar benar penuh. Memang benar, di mall ini kebanyakan orang orang
menghabiskan weekendnya. Walaupun hanya sekedar jalan jalan, nonton, hangout
atau cek-in di Path. Termasuk aku dan Arga sering sekali melakukannya.
Mobil sudah terparkir dengan rapih. Mas Nino sudah
memasang rem tangan dan membuka sefty beltnya. Namun tiba-tiba, ia terdiam
memperhatikanku. “Loe kenapa?” tanyaku.
“Nanti kalau didalam, loe jangan jauh-jauh dari gue
yah. Kemanapun gue jalan, loe enggak boleh lepas dari gue. Satu meter pun
enggak!” kata mas Nino sambil memegang bahuku. Jujur, aku sangat terkejut. Ada
apa dengan mas Nino hari ini? Kami adalah sepasang tikus dan kucing yang tidak
lepas dengan perkelahian tiap harinya. Tapi, entah kenapa hari ini mas Nino
benar-benar tidak ingin jauh dariku. “Mas! Gue bukan mbak Meta! Lagian tumben
loe mau banget dekat-dekat gue hari ini. Gue tau, kalau gue cantik. Biar enggak
malu-maluin kan mas kalau dibawa jalan?” ledekanku sambil mengedip ngedipkan
mata bulatku. Lalu dengan tiba-tiba, kepalan tangan mas Nino mendarat dengan
agak keras dikepalaku. Cukup sakit ternyata!
“Dasar! Gue enggak mau loe hilang. Entar kalau kita
ke Beijing tapi loe enggak ada ya Oma pasti marahnya ke gue!” kata mas Nino
yang seketika membuatku tersenyum.
Kami pun keluar dari parkiran dan memasuki mall.
Mall benar benar padat. Mas Nino sampai-sampai menggenggam tanganku dengan
begitu erat.
“Mas, gue laper. Makan dulu yuk!” kataku sambil
menarik tangannya masuk kedalam resto makanan asia. Namun mas Nino menahan
tanganku. Matanya berpaku pada suatu tempat. Aku juga berusaha ingin
melihatnya. Namun mas Nino segera menarik tanganku sebelum aku sempat melihat
apa yang ia perhatikan tadi.
“Loh mas! Gue sama Arga sering makan di resto itu.
Enak loh mas!” kataku sambil mengikuti gerak kaki mas Nino.
“Nin, loe enggak pernah dengar kabar yah dari itu
restoran? Banyak yang bilang kalau kalau disitu banyak pake boraks. Kemarin kan
ada yang ditv diwawancarai pake nama mawar, itu owner restorannya.” Kata mas
Nino sambil menarik bibirnya. Persis seperti ibu kalau tersenyum.
“Mas mas. Bilang aja kalau enggak ada uang mau
makan. Gue yang laper, jadi biar gue yang bayar mas!” kataku sambil membuka
buka sosial mediaku. Mas Nino masih terus berjalan mengintari mall mencari
Gramedia. Tapi aku masih sibuk dengan Pathku. Jelasnya, masih mau cek-in tempat
dan tag ke mas Nino. Biar sepupu kami melihat betapa akurnya kami. Namun
langkahku terhenti sesaat saat aku melihat Path milik Arga yang tengah cek-in
di AsianFood Resto,–bersama Tania Alexandra-.
TANIA ALEXANDRA? Itu sepupu gue!
Langkah kakiku langsung ku arahkan ke resto dimana
Arga dan Tania cek-in tadi. Dengan langkah pelan, aku mendatangi resto itu.
Jujur, lututku mulai lemas saat aku mengetahui hal itu. Untuk berjalan saja
rasanya perlu perjuangan. Namun saat aku berjalan menuju resto itu, handphoneku
bergetar. Nama ArNin muncul di layar teleponku. Dengan sedikit mengatur nafas,
aku mengangkat telepon Arga.
“Assalamualaikum sayang!”
“Waalaikum salam.”
“Sayang, maaf ya weekend ini aku jadi enggak ada waktu buat kamu. Aku mau banget jalan sama kamu tapi enggak bisa lepas dari keluarga besarku. Aku ini lagi di resto tempat kita biasa sayang.”
“Iya. Enggak apa-apa kok! Aku ngerti sama sibuknya kamu.”
“Makasih ya sayang. Aku sayang deh sama pacarku ini.”
“Iya, udah yah. Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam.”
“Sayang, maaf ya weekend ini aku jadi enggak ada waktu buat kamu. Aku mau banget jalan sama kamu tapi enggak bisa lepas dari keluarga besarku. Aku ini lagi di resto tempat kita biasa sayang.”
“Iya. Enggak apa-apa kok! Aku ngerti sama sibuknya kamu.”
“Makasih ya sayang. Aku sayang deh sama pacarku ini.”
“Iya, udah yah. Assalamualaikum!”
“Kamu masih bisa
manggil aku sayang ya ternyata Ga”
Belum sempat ia membalas salamku, aku langsung
mematikannya. Aku sudah tepat di depan resto dimana Tania dan Arga makan.
Argapun terlihat keluar dari WC dan langsung mendatangi Tania yang makan
sendirian. Arga langsung memegang tangan Tania dan kembali mengobrol bersama.
Aku hanya terdiam melihat Arga dan Tania sepupuku.
Ternyata, mas Nino sibuk mencariku. Ia sempat
berfikir bahwa aku ada di resto itu. Hingga akhirnya ia mencoba mencariku di
tempat itu. Dari jauh, mas Nino terdiam melihatku terpaku memperhatikan Tania
dan Arga. Ia langsung menghampiriku dan berdiri tepat disebelahku.
“Mas, bisa enggak pulang ini loe langsung sidang
skripsi? Jadi sore nanti kita bisa langsung terbang ke Beijing. Dan gue enggak
mau balik lagi ke Indonesia. Gue diam disana aja jagain Oma!” kataku sambil
menggenggam tangan mas Nino. Ternyata, ini alasan kenapa mas Nino melarangku
untuk jauh darinya. Ya! Masku ini memang paling pintar menjaga perasaan
adiknya.
Mendengar hal itu, mata sipit mas Nino membesar.
Yah.. walaupun enggak ada besar-besarnya sama sekali. “Loe serius mau ke
Beijing? Tapi sebenarnya ibu tadi telepon ngomongin soal Arga yang lagi di mall
ini sama Tania. Tapi ibu enggak mau loe tau, jadi ya bohong aja gue kalau kita
mau ke Beijing!”
Mendengar hal itu, tangannya langsung kulepaskan dan
mataku semakin membulat. Mas Nino langsung mengambil ancang-ancang untuk
berlari. Aku dengan sedikit emosi mengejar mas Nino yang tertawa melihatku
marah.