Senin, 07 Mei 2018

Cerpen Remaja


Ku Hanya Ingin Menjadi Satu-satunya
by: Andriani Putri Lestari
12 Juli 2016

“You say im craizy. Cause you dont think what u done.. but when, you call me baby. I know im not the only one.”
~Sam Smith, Im not the only One~

3 bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Arga. Kebahagian lah yang kudapat, karena Arga adalah cinta pertamaku. Selama ini, semuanya baik baik saja. Ya! Aku dan dia tetap saling mencinta dan saling menyayangi. Kemana pun ada aku, pastilah ada Arga. Ibuku juga sudah sangat dekat dengannya, bahkan ia sudah sangat percaya dengan Arga. Ibuku mengetahui hubunganku ini. Tapi tidak dengan ayahku. Dia mengira bahwa aku dan Arga hanya sebatas teman biasa, sehingga suatu ketika ia berkata padaku...
“Nina, nanti Arga lanjut kuliah dimana?” Ayahku tiba-tiba bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari koran.
“Di jogja yah. Mungkin sih! Itu juga baru rencananya dia.” Kataku dengan santai.
“Kalau gitu, kamu sama dia aja disana. Ayah suka sama dia, ayah rasa dia bisa jagain kamu nanti. Apalagi ayah sudah rasa kalau dia bagus jadi kayak kakak kamu.” Kata kata ayah itu sempat membuatku melotot. Bahkan ujung bibir ibuku sudah mulai ditarik. Hingga membuat bibir tipisnya tersenyum.
“Betul tuh yah! Aku setuju!” kataku dengan semangat.
Tiba tiba, kakak laki lakiku datang dan langsung menjambak pelan ujung rambutku.
“Woy! Temanin gue ke Gramedia yok! Temanin gue nyari buku buat sumber skripsi gue!”
“Loh, bukannya loe bilang kalau mau minta sepupu Meta buat ngerjain ya ?” kataku sambil memainkan alis tebalku. Mata bulat ibuku tiba tiba melebar dan ayahku mulai mengerutkan jidatnya.
“Gila loe yah! Becanda kali gue. Bu, yah! Omongannya si tengil ini jangan di dengerin. Ngapain Nino minta buatin skripsi. Kan ada Nina si pintar sejagat raya ini bakal bantuin Nino. Kan sayang??” kata Mas Nino sambil mencubit daguku.
“Ngapain sih mas loe ngajakin gue nyari buku? Mbak Meta mana?”
“Meta lagi liburan di kalimantan. Iya kali gue nyusulin dia buat minta nemenin nyari buku.”
Ditengah percakapanku, aku tidak menyadari bahwa ibuku tengah membuka social medianya. Mata sipitnya mulai membulat. Hingga akhirnya, ayahku mulai menegur ibuku yang tengah terpaku.
“Bu! Ibu ngapain diam kayak patung gitu?” Tanya ayah yang mulai penasaran.
“Biasa lah yah. Ibu kan lagi gencar gencarnya main sosmed. Kayaknya ayah harus rajin rajin nengokin sosmednya ibu deh.” Kata mas Nino yang membuatku tertawa kecil.

“Enggak ada apa-apa kok yah. Ini loh sepupu ibu yang di Beijing ngirimin berita soal ibu ibu yang lagi isi bensin tapi hapenya nyala. Sampai sampai mobilnya meledak di SPBU.” Kata ibuku dengan nada sedikit tegang. Ibuku adalah keturunan Beijing asli yang jatuh cinta pada Suyatno yang asli orang jawa  saat ia kuliah di Beijing dulu bersama ibuku, Ling Ling. Karena ada niat serius, akhirnya ibu pindah kewarganegaraan dan memeluk islam demi bisa menikah dengan ayah. Hingga lahirlah mas Nino yang berkulit sawo matang namun sipit, dan aku yang berkulit putih namun bermata bulat.
Dengan mendengar apa kata ibu, ayah hanya bisa Istigfar dan melanjutkan untuk membaca koran.
“Nino, kamu mau nyari bukunya di Gramedia yah nak?” Tanya ibu yang mulai menatap mas Nino.
“Iya bu. Kenapa? Ibu mau titip apa?”
“Enggak kok. Nanti kamu hati hati yah nak. Jagain adekmu!” kata ibuku.
“Kenapa bu? Nina bukan anak kecil yang harus megangin baju mas kemana mana loh bu. Enggak mungkin juga kan kalau Nina hilang!” tanyaku yang mulai aneh dengan ibuku hari ini.
“Enggak apa apa toh Na. Kan ini hari minggu, ya pasti ramai lah disana nanti. Sana kamu, siap siap. Tu mas mu udah ganteng, siap buat jalan” kata ibuku dengan nada mengusir.
Aku dan mas Nino pun segera menuju ke Gramedia. Jalan sedikit agak macet karena hari ini adalah weekend. Dan biasanya aku jalan menghabiskan hari bersama Arga untuk sekedar menonton dan makan bersama. Namun kali ini ia tidak bisa karena keluarga besarnya tengah datang dari Bandung dan ia harus menghabiskan waktunya bersama dengan kerabatnya.
“Mas, hapenya mas nyala tuh. Ibu nelpon!” handphone itu menyala. Terlihat tulisan ‘Ibu Sipit’ muncul dilayar handphone mas Arga.
“Loe aja Na yang angkat. Mas masih nyetir!” aku langsung mengambil handphone mas Nino dan menerima panggilan ibu.
“Halo bu! Ini Nina. Mas Nino masih nyetir. Ada yang mau ibu titip yah?” Tanyaku di telepon itu.
“Nina! Kamu ini kebiasaan yah! Kalau ngangkat telepon itu salam dulu kek. Assalamualaikum aja kamu lupa!” kata ibuku dari ujung sana. Walaupun ibuku adalah seorang mualaf, tapi ia sangat taat pada Islam. “Kasih hapenya ke mas mu. Ibu mau ngomong penting. Cepat!”. Lanjut ibuku. Hal penting apa yang ia ingin bicarakan dengan mas Nino, bahkan sampai aku tidak boleh mendengarnya.
“Halo bu. Assalamualaikum. Kenapa bu? Ini Nino.” Kata masku. Pastilah ibu akan memujinya nanti saat aku sampai dirumah hanya karena salam itu. Kali ini sepertinya mereka membicarakan masalah khusus. Bahkan mas Nino sampai mengurangi kecepatannya hanya untuk fokus pada kata kata ibu. Sedikitpun aku tidak bisa dengar apa yang ibu dan mas Nino bicarakan. Aku hanya mendengar masku mengucapkan iya, iya dan iya. Setelah menutup telepon, aku langsung menanyakan apa yang ibu bicarakan. “bilang ibu, kalau nanti gue udah sidang kita liburan ke Beijing. Ketemu sama Oma, kak Ciau Ling juga mau tunangan nanti. Jadi nanti kita ikut kesana.”
Aku hanya diam, dalam setahun ini kami sekeluarga sudah pulang ke Beijing sebanyak 3 kali karena Oma rindu sama anak dan cucunya. Waipo kami itu sangat keras kepala, apapun yang diminta haruslah dituruti. Terutama untuk masalah rindu merindu. Aku sudah bosan ke Beijing. Bukan bosan dengan negaranya. Aku bosan karena dikeluargaku, hanya aku yang tidak bisa berbicara dengan bahasa Mandarin. Ayah dan ibuku sudah sangat menguasai bahasa itu, apalagi Masku. Yang sudah berjuta juta kali pulang ke Beijing. Kebetulan juga, karena mas Nino lahir dan besar di Beijing. Sedangkan aku, lahir dan besar di Surabaya.
“Loe enggak suka yah kalau kita balik ke Beijing?” kata masku yang tiba tiba memecahkan keheningan.
“Bukan enggak suka mas, kan loe tau sendiri. Gue enggak bisa ngomong pake bahasa mandarin. Kenapa sih harus ke Beijing lagi? Sekali sekali liburan ke Surabaya dong.”
“Yang kangen sama kita itu Oma. Bukan Mbah lanang sama mbah wedo’.” Kata mas Nino.
“Setidaknya kan gue masih ngerti pake bahasa Jawa mas. Dari pada gue dirumah Oma kayak orang bego.” Kataku sambil memainkan alisku.
“Loe sama ayah mah ngerti. Lah? Gue sama ibu bagaimana?” kata masku yang mulai memarkirkan mobilnya di parkiran mall. Ia tengah fokus memarkirkan mobilnya disalah satu parkiran kosong. Kali ini parkiran benar benar penuh. Memang benar, di mall ini kebanyakan orang orang menghabiskan weekendnya. Walaupun hanya sekedar jalan jalan, nonton, hangout atau cek-in di Path. Termasuk aku dan Arga sering sekali melakukannya.
Mobil sudah terparkir dengan rapih. Mas Nino sudah memasang rem tangan dan membuka sefty beltnya. Namun tiba-tiba, ia terdiam memperhatikanku. “Loe kenapa?” tanyaku.
“Nanti kalau didalam, loe jangan jauh-jauh dari gue yah. Kemanapun gue jalan, loe enggak boleh lepas dari gue. Satu meter pun enggak!” kata mas Nino sambil memegang bahuku. Jujur, aku sangat terkejut. Ada apa dengan mas Nino hari ini? Kami adalah sepasang tikus dan kucing yang tidak lepas dengan perkelahian tiap harinya. Tapi, entah kenapa hari ini mas Nino benar-benar tidak ingin jauh dariku. “Mas! Gue bukan mbak Meta! Lagian tumben loe mau banget dekat-dekat gue hari ini. Gue tau, kalau gue cantik. Biar enggak malu-maluin kan mas kalau dibawa jalan?” ledekanku sambil mengedip ngedipkan mata bulatku. Lalu dengan tiba-tiba, kepalan tangan mas Nino mendarat dengan agak keras dikepalaku. Cukup sakit ternyata!
“Dasar! Gue enggak mau loe hilang. Entar kalau kita ke Beijing tapi loe enggak ada ya Oma pasti marahnya ke gue!” kata mas Nino yang seketika membuatku tersenyum.
Kami pun keluar dari parkiran dan memasuki mall. Mall benar benar padat. Mas Nino sampai-sampai menggenggam tanganku dengan begitu erat.
“Mas, gue laper. Makan dulu yuk!” kataku sambil menarik tangannya masuk kedalam resto makanan asia. Namun mas Nino menahan tanganku. Matanya berpaku pada suatu tempat. Aku juga berusaha ingin melihatnya. Namun mas Nino segera menarik tanganku sebelum aku sempat melihat apa yang ia perhatikan tadi.
“Loh mas! Gue sama Arga sering makan di resto itu. Enak loh mas!” kataku sambil mengikuti gerak kaki mas Nino.
“Nin, loe enggak pernah dengar kabar yah dari itu restoran? Banyak yang bilang kalau kalau disitu banyak pake boraks. Kemarin kan ada yang ditv diwawancarai pake nama mawar, itu owner restorannya.” Kata mas Nino sambil menarik bibirnya. Persis seperti ibu kalau tersenyum.
“Mas mas. Bilang aja kalau enggak ada uang mau makan. Gue yang laper, jadi biar gue yang bayar mas!” kataku sambil membuka buka sosial mediaku. Mas Nino masih terus berjalan mengintari mall mencari Gramedia. Tapi aku masih sibuk dengan Pathku. Jelasnya, masih mau cek-in tempat dan tag ke mas Nino. Biar sepupu kami melihat betapa akurnya kami. Namun langkahku terhenti sesaat saat aku melihat Path milik Arga yang tengah cek-in di AsianFood Resto,–bersama Tania Alexandra-.
TANIA ALEXANDRA? Itu sepupu gue!
Langkah kakiku langsung ku arahkan ke resto dimana Arga dan Tania cek-in tadi. Dengan langkah pelan, aku mendatangi resto itu. Jujur, lututku mulai lemas saat aku mengetahui hal itu. Untuk berjalan saja rasanya perlu perjuangan. Namun saat aku berjalan menuju resto itu, handphoneku bergetar. Nama ArNin muncul di layar teleponku. Dengan sedikit mengatur nafas, aku mengangkat telepon Arga.

“Assalamualaikum sayang!”
“Waalaikum salam.”
“Sayang, maaf ya weekend ini aku jadi enggak ada waktu buat kamu. Aku mau banget jalan sama kamu tapi enggak bisa lepas dari keluarga besarku. Aku ini lagi di resto tempat kita biasa sayang.”
“Iya. Enggak apa-apa kok! Aku ngerti sama sibuknya kamu.”
“Makasih ya sayang. Aku sayang deh sama pacarku ini.”
“Iya, udah yah. Assalamualaikum!”

“Kamu masih bisa manggil aku sayang ya ternyata Ga”

Belum sempat ia membalas salamku, aku langsung mematikannya. Aku sudah tepat di depan resto dimana Tania dan Arga makan. Argapun terlihat keluar dari WC dan langsung mendatangi Tania yang makan sendirian. Arga langsung memegang tangan Tania dan kembali mengobrol bersama. Aku hanya terdiam melihat Arga dan Tania sepupuku.
Ternyata, mas Nino sibuk mencariku. Ia sempat berfikir bahwa aku ada di resto itu. Hingga akhirnya ia mencoba mencariku di tempat itu. Dari jauh, mas Nino terdiam melihatku terpaku memperhatikan Tania dan Arga. Ia langsung menghampiriku dan berdiri tepat disebelahku.
“Mas, bisa enggak pulang ini loe langsung sidang skripsi? Jadi sore nanti kita bisa langsung terbang ke Beijing. Dan gue enggak mau balik lagi ke Indonesia. Gue diam disana aja jagain Oma!” kataku sambil menggenggam tangan mas Nino. Ternyata, ini alasan kenapa mas Nino melarangku untuk jauh darinya. Ya! Masku ini memang paling pintar menjaga perasaan adiknya.
Mendengar hal itu, mata sipit mas Nino membesar. Yah.. walaupun enggak ada besar-besarnya sama sekali. “Loe serius mau ke Beijing? Tapi sebenarnya ibu tadi telepon ngomongin soal Arga yang lagi di mall ini sama Tania. Tapi ibu enggak mau loe tau, jadi ya bohong aja gue kalau kita mau ke Beijing!”
Mendengar hal itu, tangannya langsung kulepaskan dan mataku semakin membulat. Mas Nino langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari. Aku dengan sedikit emosi mengejar mas Nino yang tertawa melihatku marah.