Jumat, 19 Mei 2017

Contoh Prosa

Hai guys!! Welcome back to my blog!!!
Kali ini mimin datang lagi buat share tentang prosa. Prosa yang mimin share kali ini adalah prosa berjeniskan cerpen fabel. Maaf ya kalau cerpen yang mimin buat ini belum bisa sebagus cerpen yang pernah kalian baca. hehehe~

Kisah Raja Bijaksana dan Kesabaran Jerapah
Karya: Andriani Putri Lestari

Suatu hari, semua rakyat pada hutan Suka Maju terlihat berkumpul di padang rumput kerajaan. Terlihat raja hutan yaitu raja Singa membawa seekor beruang kusam dengan tas biola ditangan kanannya. Semua rakyat merasa penasaran dengan beruang yang dibawa oleh sang raja. Kemudian sang raja memperbaiki posisi duduknya diatas singgasana dan mulai berbicara.
“Hai rakyat Hutan Suka Maju yang berbahagia! Maksud saya untuk mengumpulkan kalian disini adalah untuk memperkenalkan beruang coklat ini kepada kalian semua!” Kata raja tersebut dengan penuh wibawa. Merasa ada yang aneh dengan sikap raja, seekor jerapah memberanikan diri untuk bertanya kepada sang raja.
“Wahai raja yang sangat saya hormati. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin bertanya kepada anda yang mulia!”
“Silahkan rakyatku! Bertanyalah apapun yang ingin kau pertanyakan.” Kata raja dengan sangat sopan kepada rakyatnya.
“Ada apakah gerangan anda membawa beruang kusam itu ke lingkungan kerajaan kita? Lihatlah raja, semua rakyatmu adalah rakyat-rakyat yang berkecukupan. Lihatlah penampilan mereka! Bukankah baik dipandang mata wahai raja? Sedangkan dia adalah beruang yang sangat kusam dan tak enak dipandang mata! Untuk apa dia ada dilingkungan kita wahai yang mulia?”
Dengan sangat percaya diri, raja mendorong langkah beruang itu ke depannya dan tersenyum kecil. “Jangan malu beruang. Tunjukkan lah kepada semua rakyatku ini!”. Kemudia beruang itu mulai memainkan biola yang ia pegang. Awalnya, beruang merasa kurang percaya diri dikarenakan ini adalah pertama kalinya ia memainkan biola didepan seorang raja besar. Namun, dengan keyakinan diri ia mulai melakukannya. Gesekan-gesekan yang keluar dari senar biola tersebut akhirnya membuat para hewan terpaku. Mereka sangat menikmati lagu yang dimainkan oleh beruang kusam itu.
“Inilah alasan saya wahai jerapah mengapa saya membawanya ke negeri kita. Sudahkah kau melihat ayam yang ada dinegeri seberang sana? Suaranya begitu indah. Bahkan ayam itu sudah pergi keberbagai negeri untuk memenuhi undangan kerajaan. Sedangkan dinegeri kita ada apa? Kerapihan kalian tidak selalu mendukung kesuksesan negeri kita. Kita juga membutuhkan seseorang yang bisa membawa nama negeri kita kemanapun ia pergi.” Kata sang raja dengan penuh percaya diri. Jerapah mulai merasa menyesal telah meremehkan beruang berbakat itu. Ia terlihat menundukkan kepala dan mulai mundur kebelakang. Saat ia ingin berbalik pulang, terdengar suara raja memanggilnya.
“Jerapah!! Kemana kau akan pergi?” kata raja yang kemudian membuat jerapah kaget dan berbalik badan.
“Maafkan saya wahai raja. Saya terlalu merendahkan beruang itu. Sehingga saya tidak melihat apa kemampuan yang ia miliki. Saya merasa sangat malu wahai raja!” Kata jerapah sambil terus menunduk malu.
“Bagus jerapah! Wahai semua rakyatku. Contohlah penyesalan jerapah ini. Ambillah pelajaran dari kejadian tadi. Jangan merendahkan seseorang dari tampilan fisik. Tanpa mengetahui apa yang mereka miliki sebelumnya.” Kata raja dengan sangat bijaksana. Jerapah hanya tertunduk diantara kerumunan rakyat yang turut memperhatikannya. “Baiklah jerapah! Saya ingin kamu menjadi teman untuk beruang ini. Bawalah ia pergi untuk merapikan diri, bantulah ia untuk memperoleh makanan dan bawalah ia untuk berkeliling di negeri kita ini. Saya percayakan ia kepadamu wahai jerapah!” Mendengar kata-kata itu, jerapah langsung bersemangat. Tidak ada satupun rakyat yang diberi suatu kepercayaan langsung dari raja terkecuali para pelayan istana. Betapa beruntungnya jerapah kali ini.
“Baiklah raja. Saya akan menjalankan perintah yang raja berikan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaan anda wahai raja!” kata jerapah dengan sangat semangat.
Jerapah akhirnya membawa beruang untuk berkeliling dinegeri mereka.
“Jerapah, kenapa negerimu ini memiliki rakyat yang sangat rapih dalam berpenampilan?” tanya beruang sambil berjalan bersama jerapah.
“Awalnya, ayah dari raja kita yang sekarang tidak memperdulikan negeri ini. Sampah dimana-mana, kemiskinan, kekeringan dikarenakan raja yang tidak perduli dengan distribusi air, serta kelaparan yang kami rasakan. Ia hanya memperdulikan ketamakannya, kebanggaannya sebagai raja, dan perjalanan kenegaraannya. Sehingga ia tidak perduli dengan negaranya sendiri dan juga rakyat-rakyatnya. Anaknya yaitu raja kita sekarang merasa tidak nyaman dengan kondisi negeri ini. Sehingga ia secara diam-diam merubah semuanya dengan bantuan orang kepercayaannya. Saat semua misi yang ia jalankan berhasil, rajapun baru tersadar bahwa rakyatnya pernah mengalami kesusahan. Sehingga dengan kerelaan hati, ia memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada raja kita ini.” Kata jerapah panjang lebar.
“Maka dari itu, kau sangat bangga jika menjadi orang kepercayaan raja bukan?” tanya beruang.
“Ya, benar sekali.” kata jerapah sambil tersenyum kecil. “Oh iya, beberapa hari lagi akan ada musim panas. Pasti kita akan kekeringan, ini adalah saatnya kita untuk mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya agar kita tidak kehabisan makanan dan kelaparan saat musim panas nanti.”
“Benarkah? Baiklah, besok lusa kita berdua akan mengumpulkan makanan. Hari ini aku ingin merapikan diriku terlebih dahulu untuk pertunjukan biolaku besok.”
Keesokan harinya, jerapah menemani beruang untuk melakukan pertunjukan biola di negeri seberang. Bawaan beruang sangat banyak. Ia membawa berbagai makanan, air berliter-liter, membawa pakaian yang sangat banyak dan membawa sebuah payung besar. Semua barang yang ia bawa, ia berikan kepada jerapah untuk membawanya. Jerapah awalnya merasa sangat keberatan, namun dikarenakan hal ini adalah perintah dari sang raja, ia pun menyanggupinya.
“Untuk apa kau membawa semua ini beruang? Kita disana hanya sebentar. Tidaklah perlu membawa barang sebanyak ini!” Kata jerapah ditengah perjalanan. Ia terlihat kelelahan saat membawa semua barang-barang tersebut.
“Jerapah! Ingatlah satu hal, kau adalah orang kepercayaan dari kerajaan untuk mengawalku kemanapun aku pergi. Berarti ini adalah salah satu tanggung jawabmu. Perjalananku kali ini mewakili negeri kita. Harusnya kau tak perlu banyak mengomel jerapah!” Jerapah mulai kesal. Namun, ia hanya memikirkan tanggung jawabnya sebagai salah satu kepercayaan kerajaan. Sehingga ia hanya bisa menuruti kemauan sang beruang.
Keesokan harinya, beruang mengajak jerapah untuk mengumpulkan makanan sebelum musim panas datang. Namun, kejadian pada hari sebelumnya kembali terulang. Beruang kembali menyusahkan keberadaan jerapah. Sang beruang tak memberikan sedikitpun makanan yang ia dapat kepada jerapah. Dan jerapah pun tidak dapat mencari makanan dikarenakan terhalang oleh bawaan beruang yang begitu banyak.
Jerapah merasa ingin marah besar kepada beruang. Namun yang ia ingat kembali adalah kepercayaan raja. Ia tidak ingin kepercayaan raja kepadanya hilang hanya karena emosinya. Namun, terlihat dari kejauhan ada seekor burung beo yang melihat keadaan jerapah. Burung beo itupun segera melaporkannya kepada raja. Saat raja mendengar penjelasan burung beo, betapa marahnya ia. Ia tidak menyangka bahwa beruang yang ia kasihani malah hanya dapat menyusahkan rakyat kepercayaannya. Akhirnya raja menyuruh burung beo untuk memanggil jerapah dan beruang untuk menghadap kepadanya.
Jerapah dan beruangpun sampai dikerajaan. Raja pun terlihat menyiapkan 2 tempat besar dengan isian yang berbeda. Tempat  pertama berisikan buah-buahan yang manis dan segar. Sedangkan tempat  kedua berisikan secawan air putih.
“Selamat datang beruang dan jerapah! Kalian adalah tamu kehormatanku untuk hari ini. Beruang berbakat yang membawa nama negeri kita keberbagai wilayah dan jerapah yang menjadi salah satu rakyat yang paling kupercaya. Aku tahu bahwa kau mengerjakan tugasmu dengan sangat baik wahai jerapah.” Beruang dan jerapah hanya tersenyum mendengarkan pujian dari sang raja.
“Sebagai balasan terima kasihku kepada kalian, aku akan menjamu kalian hari ini diistanaku. Silahkan, satu tempat untuk satu dari kalian!” Kata raja sambil tersenyum kecil. Beruang tanpa berfikir panjang langsung berlari menuju meja dan memakan buah-buahan yang disediakan raja. Namun, jerapah dengan pelannya berjalan menuju tempat berisi secawan air putih dan meminumnya. Betapa leganya perasaan jerapah yang dari tadi kelelahan dikarenakan harus membawa barang-barang dari beruang. Setelah meminumnya, iapun mundur kebelakang beruang dan memperhatikan beruang yang tengah asyik makan. Raja tersenyum saat melihat apa yang terjadi didepan matanya.
Setelah beruang makan, raja memanggil keduanya untuk menghadap didepannya. “maafkan saya raja, akankah saya memiliki kesalahan sehingga anda memanggil saya kemari?” tanya jerapah yang heran dengan perlakuan raja. Raja hanya senyum dan memanggil burung beonya.
“Jerapah, terima kasih! Karena kau sudah menjalankan tugas yang saya berikan dengan sangat baik. Saya akan mengangkatmu menjadi pengawal pribadi saya mulai sekarang. Saya suka kesabaranmu dalam menghadapi beruang dengan sifat tamaknya.” Kata raja yang membuat beruang tampak kaget.
Beruang hanya bisa terlihat marah kepada jerapah, “Jerapah!! Apa yang kau lakukan?! Sejak kapan kau melaporkan semua perlakuanku pada raja??” Beruang mulai tidak sadar dengan apa yang ia katakan. Sehingga raja semakin percaya dengan apa yang dikatakan oleh burung beo. Beruang sontak kaget karena secara tidak sadar ia membocorkan perlakuannya didepan raja. Jerapah hanya terdiam dan tidak mengucapkan apa-apa.
“Saya mengetahui itu semua dari salah satu pelayan kerajaan. Jangan salahkan jerapah wahai beruang. Janganlah menjadi seorang yang melempar batu sembunyi tangan!” Kata raja dengan nada yang sedikit agak tinggi.
Beruang hanya tertunduk malu dan keluar dari istana. Ia akhirnya menyadari kesalahan yang ia buat. Ia sangat tidak mengira bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah kesalahan besar.

Akhirnya, jerapah pun mendapat tempat yang sesuai dengan kesabaran yang ia tahan selama ini. Kini ia menjadi salah satu pekerja istana yang dihormati di kerajaan dan di mata rakyat.


Terimakasih ya sudah membaca prosa yang mimin buat. hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar